Kendari Gandeng Remaja Lawan Stunting: Ambisi Besar, Tantangan Lebih Besar

Kesehatan
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kendari Gandeng Remaja Lawan Stunting: Ambisi Besar, Tantangan Lebih Besar
BAGIKAN:

Pemerintah Kota Kendari meluncurkan inisiatif yang menempatkan remaja, termasuk pelajar, sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Program ini menugaskan mereka sebagai duta atau agen stunting, dengan harapan mereka dapat menyebarkan pesan tentang pola hidup sehat, gizi seimbang, dan kesiapan memasuki usia pernikahan kepada masyarakat sekitar.

Secara resmi, program ini diluncurkan melalui serangkaian workshop yang melibatkan para pemuda dari berbagai sekolah menengah. Mereka diberikan materi tentang pentingnya asupan nutrisi yang tepat, kebiasaan makan yang sehat, serta dampak jangka panjang stunting terhadap produktivitas dan kesehatan generasi mendatang.

Namun, di balik antusiasme yang ditampilkan, muncul sejumlah pertanyaan kritis. Apakah remaja memiliki kapasitas dan otoritas yang cukup untuk mempengaruhi perilaku keluarga yang sudah terbiasa dengan pola makan tradisional? Bagaimana mekanisme pengawasan dan evaluasi efektivitas program ini, mengingat keterbatasan sumber daya dan pengalaman para peserta?

Selain itu, alokasi anggaran belum sepenuhnya transparan. Pemerintah kota belum mengungkapkan secara rinci berapa persen dari total anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk pelatihan remaja, materi edukasi, dan monitoring lapangan. Tanpa akuntabilitas yang jelas, risiko program ini menjadi sekadar showcase politik tanpa dampak nyata.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat bahwa melibatkan remaja dalam kampanye kesehatan memang memiliki potensi inovatif, namun pendekatan ini harus disertai dengan kerangka kerja yang kuat. Pertama, perlu ada pendampingan profesional—dokter gizi, ahli kesehatan masyarakat, dan psikolog—yang membimbing remaja dalam menyampaikan pesan secara ilmiah dan persuasif. Tanpa bimbingan ini, informasi yang disebarkan berisiko simplistik atau bahkan keliru.

Kedua, keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan lintas sektor. Sekolah, puskesmas, dan lembaga swadaya masyarakat harus berkoordinasi secara terstruktur, bukan sekadar memberikan materi satu kali. Monitoring berkelanjutan, termasuk survei penurunan prevalensi stunting di wilayah target, harus menjadi bagian integral dari setiap fase program.

Ketiga, ada tantangan budaya yang tidak boleh diabaikan. Stunting bukan sekadar masalah nutrisi; ia berakar pada pola hidup, tradisi makan, dan tingkat pendidikan orang tua. Remaja dapat menjadi agen perubahan, namun mereka memerlukan dukungan keluarga dan tokoh masyarakat untuk mengukir perubahan yang berkelanjutan.

Jika pemerintah Kota Kendari dapat mengatasi kekurangan transparansi anggaran, memperkuat jaringan pendampingan profesional, dan menyiapkan mekanisme evaluasi yang berbasis data, inisiatif ini berpotensi menjadi model replikatif bagi kota-kota lain di Indonesia. Sebaliknya, tanpa langkah-langkah tersebut, program ini berisiko menjadi kampanye simbolik yang tidak mampu menurunkan angka stunting secara signifikan.