Waketum PBNU: Menghidupkan Tradisi Menulis Kitab untuk Membangun Peradaban Islam
Maulana Ibrahim
Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu dan membangun peradaban Islam.
Menurut Kiai Zulfa, tradisi ulama adalah tradisi ilmu, dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Ia mencontohkan bahwa para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat.
Pesantren, yang dikenal sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman melalui kajian kitab kuning, perlu terus melahirkan karya-karya baru sebagai respons atas perkembangan zaman dan dinamika kehidupan masyarakat. Tantangan yang dihadapi umat saat ini semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan dan kemanusiaan, sehingga membutuhkan jawaban keilmuan yang lahir dari ulama yang memahami tradisi sekaligus mampu membaca realitas.
Kiai Zulfa menegaskan bahwa menulis kitab bukan semata aktivitas akademik, melainkan bagian dari dakwah dan khidmat kepada umat. Melalui karya tulis, ilmu dapat terus diwariskan, dipelajari, dikembangkan, dan menjangkau masyarakat jauh melampaui ruang serta waktu. Sebagai seorang jurnalis, saya melihat hal ini sebagai langkah penting untuk melestarikan dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam di Indonesia, serta memastikan bahwa warisan intelektual ini terus memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Budi Santoso

Dian Kusuma