Kebun Raya Banua, Pusat Interpretasi Geopark Meratus yang Menjanjikan
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) telah mengusulkan penguatan peran Kebun Raya Banua sebagai pusat interpretasi sekaligus miniatur Geopark Meratus dalam rencana induk Pengembangan Geopark Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp).
Kepala BRIDA Kalsel, Thaufik Hidayat, menyatakan bahwa Kebun Raya Banua memiliki potensi strategis untuk mendukung konservasi, edukasi, interpretasi, serta pengembangan ilmu pengetahuan mengenai kawasan Geopark Meratus.
Menurut Thaufik, Kebun Raya Banua dapat dikembangkan sebagai pintu masuk Geopark Meratus yang memperkenalkan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya Pegunungan Meratus.
Kawasan tersebut juga berpotensi menjadi pusat konservasi flora Meratus melalui koleksi tumbuhan endemik Kalimantan, pengembangan bank plasma nutfah daerah, serta konservasi ex-situ bagi spesies langka untuk memperkuat pelestarian keanekaragaman hayati.
Selain itu, Kebun Raya Banua juga berpotensi mendukung eduwisata, interpretasi alam, sekolah lapang konservasi, peningkatan literasi lingkungan, serta scientific tourism melalui Botanical Garden Tour, geobotany trail, dan wisata edukasi berbasis riset bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun wisatawan.
Sebagai pimpinan redaksi dan jurnalis senior investigasi, saya berpendapat bahwa usulan BRIDA ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati di Geopark Meratus.
Dengan demikian, Kebun Raya Banua dapat menjadi contoh bagi pengembangan kawasan konservasi lainnya di Indonesia, dan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup.

Budi Santoso

Dian Kusuma