Terobosan BRIN: Pupuk Silika Gembleng Produksi Bawang Merah Nasional hingga 70 Persen, Pangkas Logam Berat!

Teknologi
Reza AdityaReza Aditya
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Terobosan BRIN: Pupuk Silika Gembleng Produksi Bawang Merah Nasional hingga 70 Persen, Pangkas Logam Berat!
BAGIKAN:

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengukir prestasi gemilang dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Tim peneliti BRIN berhasil menemukan bahwa penggunaan pupuk berbasis silika (Si) secara signifikan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas bawang merah yang ditanam dari biji sejati (true shallot seed/TSS). Hasil riset menunjukkan peningkatan produktivitas yang fantastis, mencapai rentang 30 hingga 70 persen, sebuah kabar baik di tengah tantangan peningkatan kebutuhan bawang merah dan ketergantungan petani pada penggunaan umbi sebagai bahan tanam.

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan bahwa riset ini menguji tiga varietas bawang merah asal TSS, yakni Sanren, Lokananta, dan Merdeka, dengan perlakuan dosis pupuk silika 0, 5, dan 10 mL per liter. Pengujian difokuskan pada penyerapan silika, struktur daun, pertumbuhan tanaman, kandungan unsur hara, hingga produktivitas hasil panen. Varietas Sanren menunjukkan respons terbaik, di mana dosis silika 10 mL per liter meningkatkan kandungan silika dalam daun hingga 5,39 persen dan ketebalan lapisan kutikula daun bertambah sekitar 121 persen. Kondisi fisiologis ini tidak hanya membuat tanaman lebih kuat menghadapi serangan patogen, tetapi juga meningkatkan efisiensi fotosintesis secara drastis.

Dampak positif tersebut tercermin pada karakteristik fisik tanaman Sanren: jumlah daun meningkat lebih dari dua kali lipat, jumlah anakan bertambah dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, dan jumlah umbi naik dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman. Bahkan, diameter umbi ikut membesar dari 2,31 sentimeter menjadi 2,86 sentimeter, secara keseluruhan mendongkrak produktivitas 30–70 persen. Sementara itu, peneliti PRTP BRIN lainnya, Kristamtini, menambahkan temuan menarik, yakni korelasi penyerapan silika yang tinggi dengan menurunnya kandungan logam berat berbahaya seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun. Temuan ini membuka peluang besar bagi pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga menghasilkan produk yang lebih aman dan berkualitas, meskipun penelitian lanjutan terhadap kandungan logam berat pada umbi masih diperlukan.

Analisis Pakar

Temuan BRIN mengenai efektivitas pupuk silika dalam peningkatan produktivitas bawang merah adalah angin segar bagi sektor pertanian Indonesia, khususnya dalam konteks ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Peningkatan hasil panen hingga 70 persen, dikombinasikan dengan potensi pengurangan logam berat, menunjukkan bahwa inovasi ini tidak hanya menjanjikan kuantitas tetapi juga kualitas dan keamanan pangan. Ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam mengurangi ketergantungan pada umbi bibit yang mahal dan rawan penyakit, beralih ke metode TSS yang lebih efisien dan modern. Namun, tantangan terbesar adalah adopsi teknologi ini oleh petani skala kecil. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu segera merumuskan kebijakan yang mendukung diseminasi pupuk silika, termasuk penyediaan akses yang mudah, pelatihan yang komprehensif, serta insentif bagi petani. Selain itu, riset lanjutan mengenai formulasi pupuk silika yang optimal, dampak jangka panjang terhadap kesuburan tanah, dan studi ekonomi untuk menghitung kelayakan investasi bagi petani, menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan dan suksesnya implementasi inovasi ini di lapangan. Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya mandiri dalam produksi bawang merah, tetapi juga menjadi eksportir dengan produk yang berdaya saing tinggi.