Babak Baru Logistik Kalimantan Barat: Terminal Kijing Resmi Layani Ekspor Perdana, Pelindo Bidik Efisiensi Global
Hendra Gunawan
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pada tanggal 29 Juni 2026, Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, secara resmi mencatatkan sejarah dengan melepas ekspor perdana menggunakan peti kemas. Momen penting ini disaksikan langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menandai sebuah tonggak signifikan dalam upaya optimalisasi peran Terminal Kijing sebagai pintu gerbang utama bagi komoditas unggulan daerah serta sebagai elemen krusial dalam memperkuat konektivitas logistik nasional. Pelepasan ekspor ini diharapkan mampu menggenjot perekonomian lokal dan menarik investasi baru ke Bumi Khatulistiwa, sekaligus mempercepat pertumbuhan sektor perdagangan di wilayah tersebut.
Ekspor perdana tersebut melibatkan pengiriman total 180 peti kemas yang memuat beragam komoditas strategis. PT Borneo Alumina Indonesia mengirimkan 12 peti kemas berisi alumina hydroxide, sementara PT Unicoco Industries Indonesia mengekspor 2 peti kemas produk olahan kelapa, keduanya menuju Pasir Gudang, Malaysia. Selain itu, PT Ferrindo memberangkatkan 10 peti kemas kelapa bulat ke Yangpu, Tiongkok. Dari kawasan Tayan, PT Indonesia Chemical Alumina juga turut berkontribusi dengan 150 peti kemas yang dialokasikan untuk pasar Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Layanan ekspor perdana ini difasilitasi oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 sebagai operator, memanfaatkan MV WGM 256 T dan TK MMSS 2711/TB Megah 1611. Keberhasilan ini merupakan kelanjutan dari kunjungan perdana kapal peti kemas pada 10 Juni 2026, yang menandai dimulainya layanan peti kemas di Kijing.
Gubernur Ria Norsan menyambut baik inisiatif Pelindo dalam mengakselerasi optimalisasi Terminal Kijing melalui penyediaan layanan peti kemas, menyatakan harapannya agar terminal ini berkembang menjadi sentra ekspor-impor baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi. "Pemerintah Provinsi juga terus mendorong percepatan pembangunan akses jalan menuju Kijing agar konektivitas logistik semakin baik dan investasi semakin cepat masuk ke Kalimantan Barat," ujarnya. Senada, Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Farid Padang, menegaskan bahwa ekspor perdana ini adalah bukti kepercayaan pelaku usaha terhadap Kijing sebagai gerbang ekspor. Pelindo berkomitmen untuk menyediakan kapal-kapal berkapasitas lebih besar di masa depan, memungkinkan pengiriman langsung ke negara tujuan tanpa melalui pelabuhan transit, sehingga semakin meningkatkan efisiensi dan daya saing produk Kalimantan Barat di pasar global.
Analisis Pakar
Pembukaan layanan ekspor perdana di Terminal Kijing bukan sekadar peluncuran operasional baru, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam lanskap logistik dan ekonomi Kalimantan Barat, bahkan nasional. Dari perspektif ekonomi, Terminal Kijing berpotensi menjadi katalisator bagi diversifikasi produk ekspor dan peningkatan nilai tambah komoditas lokal. Dengan infrastruktur pelabuhan yang memadai, pelaku usaha kini memiliki jalur yang lebih efisien dan kompetitif untuk menjangkau pasar internasional, mengurangi biaya logistik yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama. Ini akan mendorong investasi baru di sektor industri pengolahan dan manufaktur di Kalimantan Barat.
Secara strategis, inisiatif Pelindo untuk menghadirkan kapal berkapasitas lebih besar dan memungkinkan pengiriman langsung tanpa transit adalah langkah visioner yang akan secara signifikan meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global. Efisiensi waktu dan biaya yang ditawarkan akan menarik lebih banyak eksportir dan importir untuk memanfaatkan Kijing, memposisikannya sebagai salah satu simpul penting dalam rantai pasok global. Namun, kesuksesan jangka panjang Terminal Kijing sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah dan pusat untuk terus mengembangkan infrastruktur pendukung, terutama akses jalan yang memadai, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Tanpa konektivitas darat yang kuat, potensi optimal Kijing sebagai hub logistik akan terhambat, sehingga koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memastikan Terminal Kijing benar-benar menjadi penggerak ekonomi yang berkelanjutan.

Tim Redaksi
