Tragedi KM Nurul Salsa: Kakek Relakan Pelampung demi Cucu, 16 Penumpang Masih Hilang

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Tragedi KM Nurul Salsa: Kakek Relakan Pelampung demi Cucu, 16 Penumpang Masih Hilang
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Umar (80) menyerahkan pelampung terakhirnya kepada cucunya Naurah (13) sebelum KM Nurul Salsa tenggelam di perairan Kepulauan Selayar.
  • Kapalan menewaskan 3 orang, menyelamatkan 59, dan masih mencari 16 korban yang belum ditemukan.
  • Operasi SAR dipimpin Basarnas diperpanjang tiga hari karena masih banyak korban yang hilang.

Jakarta, 22 Juli 2026 – Video yang beredar luas di media sosial menampilkan momen mengharukan sekaligus memilukan: seorang kakek berusia 80 tahun, Umar, melepaskan pelampung terakhirnya kepada cucunya, Naurah (13), sebelum KM Nurul Salsa terbalik dan tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Rekaman memperlihatkan Naurah mengenakan pelampung oranye, sementara kakeknya hanya memakai jaket cokelat tanpa pelampung, tersenyum meski situasi sudah mengerikan. Saksi selamat, Munawir (51), yang juga kerabat dekat keluarga Umar, mengonfirmasi bahwa pelampung itu memang merupakan satu-satunya yang tersisa, dan Umar sengaja menyerahkannya demi keselamatan cucunya.

Menurut Munawir, kapal berangkat dari Pelabuhan Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu (15/6). Awalnya perjalanan tampak normal, namun mesin kapal mati sekitar pukul 10.00 WITA, membuatnya terombang-ambing. Ombak yang semakin tinggi menambah tekanan, hingga kapal oleng, terbalik, dan tenggelam pada malam harinya.

Data resmi Basarnas menunjukkan 78 orang berada di atas kapal, termasuk 8 Anak Buah Kapal (ABK) dan muatan 17 ton sembako serta empat motor. Hingga hari ketujuh operasi pencarian, 59 penumpang berhasil diselamatkan, tiga ditemukan meninggal, dan 16 masih belum ditemukan.

Munawir mengaku sempat mengangkat Naurah ke atas gabus (pelampung darurat) setelah mendengar tangisannya memanggil kakeknya. Namun, ombak besar mengguncang gabus tersebut, membuat korban terbalik dan terpisah. Dalam kegelapan, Munawir kehilangan jejak Naurah dan tidak mengetahui nasibnya hingga kini.

Direktur Operasi Basarnas, Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, menyatakan operasi SAR akan diperpanjang tiga hari ke depan, mengingat masih ada 16 orang yang belum ditemukan. “Kami berharap tambahan waktu dapat memaksimalkan upaya pencarian terhadap seluruh korban yang belum ditemukan,” ujarnya pada Selasa (21/7).

Analisis Pakar

Tragedi ini mengungkap kegagalan sistemik dalam pengawasan transportasi laut di wilayah Indonesia. Pertama, kapal yang berlayar dengan muatan 17 ton sembako serta empat motor jelas melampaui kapasitas aman untuk 46 penumpang yang tercatat pada manifest. Ketidaksesuaian antara data manifest dan realita penumpang (78 orang) menandakan praktik “overbooking” yang sudah lama menjadi momok di pelayaran antar pulau.

Kedua, kondisi mesin mati pada pukul 10.00 WITA menimbulkan pertanyaan serius tentang standar perawatan kapal. Apakah ada inspeksi rutin? Apakah kapal tersebut memiliki peralatan keselamatan yang memadai, termasuk cukupnya pelampung untuk seluruh penumpang? Fakta bahwa hanya satu pelampung yang tersisa untuk 78 orang menandakan kelalaian fatal.

Ketiga, respons SAR tampak lambat. Meskipun Basarnas akhirnya memperpanjang operasi, penundaan dalam mengirimkan tim penyelamat ke lokasi yang terpencil seperti Pulau Polassi memperburuk peluang selamat. Koordinasi antara pemerintah daerah, Forkopimda, dan lembaga penyelamat harus ditingkatkan dengan prosedur yang lebih transparan dan terukur.

Akhirnya, kisah heroik Umar yang rela mengorbankan nyawanya demi cucunya seharusnya tidak menjadi satu‑satunya sorotan moral dalam tragedi ini. Pemerintah harus segera meninjau kembali regulasi keselamatan maritim, memperketat pengawasan kapal penumpang, serta memastikan setiap kapal memiliki peralatan keselamatan yang cukup dan terpelihara. Tanpa langkah konkret, kisah serupa akan terus terulang, menambah deretan korban jiwa yang tak perlu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah penumpang yang berada di KM Nurul Salsa saat kecelakaan?
    A: Sekitar 78 orang, termasuk 8 ABK.
  • Q: Mengapa hanya satu pelampung yang tersedia untuk 78 penumpang?
    A: Kapal tidak mematuhi standar keselamatan maritim; manifest tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
  • Q: Apa langkah selanjutnya yang diambil Basarnas?
    A: Operasi SAR diperpanjang tiga hari untuk mencari 16 korban yang masih hilang.