Spanyol Ogah Man-Marking Messi di Final Piala Dunia 2026: Taktik Apa yang Bakal Dipakai?
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Ringkasan Singkat
- Luis de la Fuente menegaskan Spanyol tidak akan pakai man-marking khusus untuk menjinakkan Lionel Messi di final Piala Dunia 2026.
- Argentina dan Messi diidentifikasi sebagai ancaman utama berkat performa mengerikan di menit-menit krusial turnamen ini.
- De la Fuente mengingatkan kembali pengalaman buruk 2004 saat man-marking Messi gagal, namun yakin strategi terbaru lebih matang.
Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina akan menjadi duel taktik yang menegangkan. Luis de la Fuente, pelatih Timnas Spanyol, baru-baru ini membocorkan rencana strategiknya untuk menghadapi Lionel Messi, pemain kunci Argentina. Meski menyebut rivalnya sebagai "pemain yang sangat berbahaya", De la Fuente menolak menggunakan taktik man-marking khusus untuk mengawal sang legenda sepak bola itu. "Kami tidak akan menerapkan man-marking kepada Messi, tetapi kami akan sangat waspada," ujarnya dengan tegas.
Namun, De la Fuente tak sembarangan dalam menilai ancaman Messi. Ia menyebutkan pengalaman 2004 saat masih melatih tim U-19 Sevilla, ketika ia memaksa pemainnya untuk menutup Messi secara individual. Hasilnya? Messi justru mencetak empat gol dalam 15 menit terakhir setelah pengawalnya mendapat kartu kuning. "Itu adalah pelajaran berharga bagi saya," katanya sambil tersenyum. Meski demikian, ia yakin Spanyol tidak akan mengulami nasib yang sama di Piala Dunia 2026.
Argentina sendiri diidentifikasi sebagai tim yang sangat mengancam di menit-menit akhir pertandingan. Dari total 19 gol yang dicetak selama turnamen, 12 golnya muncul pada menit ke-75 atau lebih. Messi sendiri langsung berkontribusi dengan mencetak empat gol dan tiga assist di fase krusial itu. "Kami tahu Argentina dan Messi punya kemampuan untuk mengubah jalannya pertandingan dalam waktu singkat. Kami harus waspada, terutama di 15 menit terakhir," tambah De la Fuente.
Di sisi lain, lini pertahanan Spanyol yang baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen wajib meningkatkan fokus. Mereka akan menghadapi serangan Argentina yang tak hanya mengandalkan Messi, tetapi juga dukungan dari pemain seperti Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal. Pertanyaan besar: bisakah Spanyol menahan gigi Argentina di ajang terbuka ini?
Analisis Pakar
Sebagai pengamat olahraga yang telah menyaksikan ribuan pertandingan, saya menilai keputusan De la Fuente untuk tidak memakai man-marking terhadap Messi sebagai langkah yang sangat berani. Taktik ini memang berisiko tinggi, terutama di final Piala Dunia. Namun, jika kita lihat dari performa Spanyol sepanjang turnamen, mereka memang lebih mengandalkan pressing kolektif dan kontrol posisi daripada pengawalan individu. Dengan tidak menugaskan satu pemain khusus untuk mengikuti Messi, De la Fuente mungkin ingin menjaga keseimbangan taktis agar tidak ada celah bagi pemain Argentina lainnya.
Namun, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Messi di usia 39 tahun ini justru tampil seperti pemain 20 tahun yang lalu. Ia bukan hanya pencetak gol utama Argentina, tetapi juga pemain yang mampu mengontrol tempo pertandingan. Tanpa man-marking, Spanyol harus mengandalkan komunikasi erat antara pemain dan keputusan cepat dari wasit. Jika Argentina mampu memanfaatkan ruang di belakang pertahanan Spanyol, maka Messi bisa menjadi pembeda.
Sejujurnya, saya rasa De la Fuente sudah memiliki rencana lain yang lebih canggih. Mungkin ia akan menggunakan sistem zona yang ketat di area 16 terdekat, atau bahkan menyerang lebih agresif untuk mengurangi waktu Argentina mengumpulkan bola. Tapi, satu hal yang pasti: jika Messi mampu menemukan ruang untuk mencetak gol, maka Spanyol akan kehilangan kesempatan untuk merebut gelar juara dunia pertama mereka sejak 2010.
Kita juga perlu menyebutkan bahwa ini adalah kesempatan terakhir Messi untuk merebakkan Piala Dunia. Ia sudah menorehkan namanya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, tetapi gelar juara dunia tetap menjadi beban yang belum terasa. Jika Argentina berhasil merebut trofi, maka Messi akan dikagumi sebagai pahlawan sekaligus legenda. Namun, jika Spanyol menang, maka ia akan menjadi bagian dari sejarah yang menyakitkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Spanyol tidak pakai man-marking kepada Messi?
A: De la Fuente ingin menjaga keseimbangan taktis dan menghindari kelelahan pemain karena mengikuti Messi terus-menerus. - Q: Apa performa Messi di Piala Dunia 2026?
A: Ia mencetak delapan gol dan empat assist, serta menjadi kandidat utama untuk Golden Ball. - Q: Kapan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina?
A: Final akan digelar pada 19 Juli 2026 (20 Juli dini hari WIB) di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat.
BERITA TERKAIT

Prabowo Pimpin Upacara Pelantikan 1.500 Taruna di Istana Merdeka: Simbolisme atau Sekadar Panggung Politik?

Panahan Indonesia Desak Masseur Khusus & Logistik Unggul di Asian Games 2026 – Siap Buru Medali!
