Vila Berhantu di Puncak
Melepaskan penat dari tugas akhir kuliah, sekelompok mahasiswa Jakarta—Tari, Riko, Dina, Fajar, dan Siska—memutuskan untuk menyewa sebuah vila di kawasan Puncak Pass, Bogor. Mereka menemukan vila itu dari sebuah iklan online di forum kaskus dengan harga diskon yang tidak masuk akal murahnya. "Vila Kenanga", begitu namanya. Deskripsinya luar biasa: bangunan besar dua lantai, tiga kamar tidur utama, halaman belakang luas, dan yang paling menarik, sebuah kolam renang pribadi dengan view langsung menghadap perkebunan teh yang menghijau.
Mereka tiba pada Jumat sore yang mendung. Penjaga vila, seorang bapak tua bernama Pak Ujang, menyambut mereka dengan tatapan mata yang tak biasa. Ia menyerahkan kunci dengan tangan bergetar, lalu bergegas pergi tanpa banyak basa-basi, hanya berpesan pelan, "Tolong jangan pernah memutar lagu sinden setelah jam sepuluh malam. Dan hindari kamar nomor 3 di ujung lorong lantai dua."
Tentu saja, peringatan itu hanya menjadi bahan tertawaan bagi anak-anak muda kota yang skeptis. Malam pertama mereka diisi dengan barbeque, musik keras, dan pesta kecil di pinggir kolam renang. Kelelahan setelah berpesta, mereka tertidur pulas di kamar masing-masing sekitar jam dua pagi. Fajar dan Riko tidur di kamar utama lantai satu, sementara ketiga perempuan tidur di kamar lantai dua.
Tepat pukul 03:15 pagi, Tari terbangun karena merasa kehausan. Ia melirik jam dinding. Suasana vila sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dari luar. Saat ia bangkit untuk mengambil air minum di dapur, ia mendengar suara kecipak air dari halaman belakang. Suara orang berenang.
Byur... byur...
Tari mengernyitkan dahi. Pikirnya, pasti Fajar atau Riko yang iseng berenang malam-malam. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kolam renang. Ia menyibakkan gorden sedikit, dan apa yang dilihatnya membuat jantungnya serasa copot dari tempatnya.
Di dalam kolam renang yang airnya berwarna biru gelap di bawah cahaya rembulan, ada seorang wanita sedang berenang mondar-mandir. Namun gaya berenangnya sangat tidak wajar. Gerakannya kaku, menyentak-nyentak seperti boneka rusak. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna merah tua yang mengapung di atas air. Rambutnya sangat panjang, menutupi seluruh wajahnya yang menghadap ke dasar kolam. Namun yang paling mengerikan adalah... air kolam itu sama sekali tidak memercik. Kolam itu setenang kaca cermin, meskipun wanita itu terus meronta-ronta mengelepar di dalamnya, menciptakan riak-riak darah merah yang pekat.
Wanita itu tiba-tiba berhenti bergerak. Ia mengapung dengan punggung menghadap ke atas. Perlahan, kepalanya mendongak, mematahkan lehernya ke belakang hingga wajahnya yang rusak dan hancur menatap langsung ke jendela tempat Tari berdiri mengintip.
Tari menjerit sejadi-jadinya, jeritan histeris yang membangunkan seluruh penghuni vila. Teman-temannya berlarian keluar kamar panik. Ketika mereka melihat keluar jendela, kolam renang itu kosong dan airnya tenang jernih seperti tak pernah tersentuh apa pun. Malam itu tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali tidur. Mereka berkumpul di ruang tengah dengan lampu dinyalakan semua.
Pagi harinya, saat mereka berkemas terburu-buru untuk segera kabur, Siska tak sengaja menjatuhkan sebuah pigura lukisan tua di lorong lantai dua. Di balik pigura yang pecah itu, terselip sebuah kliping koran kuning tertanggal enam tahun yang lalu. Judulnya membuat darah mereka seketika membeku:
"Tragedi Vila Kenanga Puncak: Seorang Istri Ditemukan Tewas Dibunuh dan Dibuang ke Kolam Renang oleh Suaminya Sendiri Usai Pesta Ulang Tahun."
Mereka melarikan diri dari vila itu siang itu juga tanpa meminta uang sewa kembali. Hingga detik ini, iklan Vila Kenanga dengan harga super murah itu masih terus beredar di internet, menunggu tamu-tamu polos berikutnya untuk menemani kesepian arwah nyonya rumah di dasar kolam.