Telepon dari Almarhum
Kematian Pak Sudirman karena serangan jantung yang mendadak dua tahun lalu meninggalkan duka mendalam bagi Hendra, putra tunggalnya. Selain kehilangan sosok figur ayah yang tangguh, keluarga mereka juga tertimpa masalah sengketa tanah warisan dengan paman Hendra, Pak Rudi. Pak Rudi mengklaim bahwa sertifikat tanah perkebunan keluarga telah dijaminkan dan dijual kepadanya sebelum Pak Sudirman meninggal. Hendra tahu ayahnya tak akan pernah menjual tanah leluhur itu, tapi ia tak punya bukti kuat. Nomor ponsel ayahnya, sebuah nomor simpati cantik yang dipakai selama belasan tahun, telah hangus dan tidak aktif karena sengaja dibiarkan Hendra sebagai bentuk kenangan.
Malam itu adalah peringatan tepat dua tahun berpulangnya Pak Sudirman. Hendra sedang duduk sendirian di teras rumah merenungi nasib tanah yang akan segera disita oleh pengadilan besok paginya. Gerimis tipis turun menambah kelam suasana hatinya. Tiba-tiba, ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja kaca bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan panggilan masuk.
Hendra menatap layar itu dengan mata terbelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Caller ID itu menampilkan nama: "Bapak (Almarhum)". Foto profil wajah ayahnya yang sedang tersenyum tampak bersinar di layar ponsel.
Jantung Hendra berdebar kencang. Secara logika, nomor hangus bisa saja di-recycle dan dibeli oleh orang lain. Ia menekan tombol terima dengan tangan gemetar. "Halo? Ini siapa?" sapanya dengan suara serak, siap memarahi orang yang iseng menghubunginya.
Dari seberang saluran, tidak ada suara orang biasa. Hanya terdengar suara dengungan statis yang aneh (white noise), diselingi suara gemerisik yang mengingatkan Hendra pada suara tanah yang sedang digali. Namun beberapa detik kemudian, dari balik suara gemerisik itu, muncullah sebuah suara berat yang bergetar. Suara khas seorang pria tua dengan aksen Jawa kental yang batuk-batuk kecil. Suara yang sangat, sangat familiar bagi Hendra.
"Ndra... Hendra... anakku..."
Air mata Hendra langsung menetes. Seluruh rambut halus di lengannya berdiri tegak. Itu benar-benar suara ayahnya. Kualitas suaranya bergema, seperti orang yang sedang menelepon dari dalam ruang bawah tanah yang sangat dalam dan kosong.
"Bapak? Bapaaak?! Ini beneran Bapak? Dari mana Pak?!" Hendra nyaris berteriak histeris, antara takut dan rindu yang tak terbendung.
"Dengarkan Bapak, Ndra. Waktunya tidak banyak. Tempat ini dingin... dan gelap," suara ayahnya terdengar putus-putus. "Rudi berbohong. Bapak tidak pernah menjual tanah itu. Sertifikat aslinya tidak hilang. Ingat kotak perkakas tua Bapak di garasi mobil? Buka lantai dasarnya, Nak. Ada ruang rahasia di bawah bantalan obeng. Ambillah malam ini juga. Jangan biarkan hakmu dirampas."
Sebelum Hendra sempat bertanya lagi, suara statis itu mengeras, disusul suara rintihan tertahan, dan klik. Telepon terputus. Panggilan berakhir.
Tanpa mempedulikan ketakutan atau akal sehatnya, Hendra berlari menerobos gerimis menuju garasi belakang yang sudah lama tak terpakai. Ia menyalakan lampu garasi yang berkedip-kedip, membongkar tumpukan barang rongsokan, dan menemukan kotak perkakas besi tua milik ayahnya yang sudah berkarat. Dengan obeng, ia mencungkil bantalan plastik di dasar kotak tersebut. Ruang rahasia itu benar-benar ada. Di dalamnya, terbungkus rapi dalam plastik klip, terdapat sertifikat asli tanah perkebunan keluarga beserta sebuah surat wasiat bermeterai yang disahkan notaris.
Keesokan paginya, dengan bukti-bukti otentik tersebut, gugatan Pak Rudi berhasil dimentahkan secara telak di pengadilan. Keluarga Hendra selamat dari kebangkrutan. Sore harinya, setelah urusan selesai, Hendra mencoba menelepon kembali nomor sang ayah untuk mengucapkan terima kasih, entah ke dimensi mana panggilan itu akan bermuara.
Sebuah suara operator wanita standar terdengar datar dari ponselnya: "Mohon maaf, nomor yang Anda tuju tidak terdaftar di jaringan kami."