Suara dari Sumur Tua
Setelah bertahun-tahun hidup mengontrak di apartemen sempit ibu kota, Keluarga Pratama akhirnya menemukan rumah idaman mereka. Sebuah rumah bergaya joglo modern yang luas dengan halaman belakang yang dipenuhi pohon mangga, terletak di pinggiran Yogyakarta. Harganya sangat jauh di bawah harga pasaran, membuat Pak Pratama tanpa pikir panjang langsung menandatangani akta jual beli. "Mungkin karena pemiliknya butuh uang cepat," dalihnya menenangkan sang istri yang merasa sedikit merinding melihat kondisi rumah yang tak berpenghuni selama bertahun-tahun.
Satu-satunya hal yang mengganggu pemandangan halaman belakang yang indah itu adalah sebuah sumur tua berdiameter besar. Bibir sumur itu terbuat dari batu kali yang tertutup lumut tebal, dan di atasnya disemen rapat lalu ditutup lagi dengan papan kayu ulin tebal yang digembok karatan. Pak Pratama melarang keras kedua anaknya, Aldi (8 tahun) dan Siska (5 tahun), untuk bermain di dekat sumur itu, beralasan strukturnya sudah rapuh.
Minggu pertama berlalu dengan damai. Namun pada hari kedelapan, kejanggalan mulai terjadi. Pagi itu, saat Bu Pratama sedang menjemur pakaian, ia menyadari bahwa gembok berkarat di sumur itu telah terlepas, dan papan kayunya bergeser setengah terbuka. Merasa kesal pada suaminya karena lupa mengunci, ia menutupnya kembali. Anehnya, kejadian yang sama berulang keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi.
Puncaknya terjadi pada malam Jumat Kliwon. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hujan rintik membasahi daun-daun mangga. Pak Pratama sedang lembur di ruang kerjanya saat ia mendengar sayup-sayup suara senandung dari arah halaman belakang. Suara itu adalah tembang Jawa kuno, dinyanyikan oleh seorang wanita dengan nada yang mendayu-dayu, merintih, dan sangat menyayat hati.
"Lingsir wengi... sliramu tumeking sirno..."
Bulu kuduk Pak Pratama berdiri. Ia meraih senter, membuka pintu dapur perlahan, dan menyorotkan cahaya ke halaman belakang. Tidak ada siapa-siapa. Namun, saat cahaya senter mengenai sumur tua itu, papan penutupnya sudah terbuka lebar. Dari dalam lubang hitam sumur itu, uap putih dingin mengepul pelan. Dan di antara uap itu, Pak Pratama melihat sepasang tangan pucat berkeriput, dengan kuku-kuku hitam panjang, sedang mencengkeram bibir sumur, perlahan-lahan berusaha menarik tubuhnya naik.
Dengan ketakutan yang luar biasa, Pak Pratama mengunci pintu rapat-rapat dan berlari ke kamar. Pagi harinya, ia segera mencari mantan pemilik rumah ke desa sebelah. Pria tua itu menemui Pak Pratama dengan wajah bersalah dan ketakutan.
"Maafkan saya, Pak Pratama. Saya terpaksa menjualnya murah karena sudah tidak tahan," ucap pria tua itu dengan mata berkaca-kaca. "Sumur itu bukan buatan manusia biasa. Ratusan tahun lalu, sebelum desa ini ada, seorang wanita yang dituduh mempraktikkan ilmu hitam dilemparkan hidup-hidup ke dalam sumur itu bersama bayinya. Sejak saat itu, arwahnya menjadi wewe gombel pendendam. Ia selalu memanggil-manggil anak kecil di malam hari. Kami mengunci sumur itu setelah anak bungsu saya hampir terjun ke dalamnya karena mendengar 'ibunya' bernyanyi memanggilnya pulang."
Tanpa banyak barang bawaan, siang itu juga Keluarga Pratama meninggalkan rumah tersebut untuk selamanya. Hingga kini, rumah itu dibiarkan kosong membusuk. Dan jika malam turun, sayup-sayup nyanyian tembang Jawa itu masih sering terdengar menyapa siapa saja yang berani lewat di jalan setapak samping rumah.