Rumah Tua di Ujung Gang
Tidak ada yang berani melewati ujung Gang Melati setelah pukul sembilan malam. Desas-desus tentang rumah bernomor 13 di pojok jalan itu sudah melegenda di kalangan warga. Rumah bergaya kolonial Belanda itu dibiarkan terbengkalai selama dua puluh tahun, sejak tragedi pembunuhan berdarah yang merenggut nyawa satu keluarga utuh. Cat dindingnya yang dulu putih bersih kini mengelupas, menampilkan bata merah berlumut. Jendela-jendelanya yang pecah menatap kosong seperti mata mayat, sementara akar pohon beringin raksasa di halaman depan perlahan mencekik pilar-pilar rapuh bangunan itu.
Namun Rendi, seorang mahasiswa arsitektur semester tiga yang baru pindah ke rumah petak tepat di sebelah bangunan nahas itu, adalah tipe pemuda logis yang menertawakan takhayul. "Hanya mitos konyol yang dibesar-besarkan ibu-ibu kompleks," ucapnya sambil tertawa ketika ibu kos memperingatkannya untuk tidak menoleh ke jendela lantai dua rumah itu. Malam pertama Rendi pindah, udara terasa aneh. Hujan rintik turun sejak sore, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Tepat pukul dua belas malam, saat Rendi sedang menyelesaikan maket tugas akhirnya, suara itu terdengar.
Tuk... Tuk... Tuk...
Tiga ketukan lambat dan berirama datang dari balik dinding kamarnya—dinding yang berbatasan langsung dengan rumah tua itu. Rendi menghentikan pekerjaannya. Ia menelan ludah. Dinding itu tebal, butuh tenaga ekstra untuk menghasilkan suara sekeras itu. "Mungkin cuma tikus," gumamnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai memburu. Ia melanjutkan pekerjaannya. Namun, sepuluh menit kemudian, ketukan itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras, lebih menuntut.
BRAK! BRAK! BRAK!
Debu putih berjatuhan dari plafon. Rendi terlonjak dari kursinya. Ia menempelkan telinganya ke dinding yang dingin. Hening. Hanya ada suara napasnya sendiri. Tiba-tiba, dari balik dinding, sayup-sayup terdengar suara rintihan tertahan. Suara seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu, disusul oleh suara seretan benda berat di lantai. Rendi merinding. Logikanya berteriak menyuruhnya tidur, tapi rasa penasarannya menang. Ia mengintip dari ventilasi kamarnya yang mengarah ke halaman samping rumah tua itu.
Cahaya bulan purnama sesekali menyelinap dari balik awan kelabu, memberikan penerangan seadanya. Rendi memicingkan mata. Di antara semak belukar yang rimbun, ia melihatnya. Sesosok bayangan putih pucat tergeletak di tanah. Awalnya Rendi mengira itu guling bekas yang dibuang, sampai bayangan itu perlahan bergerak. Bukan bergerak merangkak atau berjalan, tapi melompat kaku.
Tubuhnya terbungkus kain kafan yang kotor oleh lumpur hitam dan bercak merah kecokelatan yang tampak seperti darah mengering. Ujung kain di bagian kepala dan kakinya terikat kencang. Rendi membeku. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Sosok itu melompat perlahan mendekati jendela kamarnya. Dengan gerakan patah-patah, pocong itu memiringkan tubuhnya hingga wajahnya yang rusak dan dipenuhi belatung menempel ke kaca jendela. Mata sosok itu yang putih tanpa bola hitam menatap langsung ke mata Rendi.
"Kembalikan... kembalikan tanah kami..." bisik sosok itu. Suaranya bergema bukan di telinga Rendi, melainkan langsung di dalam kepalanya, membawa hawa busuk yang membuat Rendi mual.
Rendi mundur tersandung kakinya sendiri dan jatuh ke lantai. Ia berteriak sekuat tenaga, membangunkan seluruh penghuni kontrakan. Pintu kamarnya digedor paksa oleh Pak RT dan beberapa tetangga. Ketika pintu terbuka, Rendi ditemukan meringkuk di sudut kamar sambil menunjuk-nunjuk jendela yang kini kosong. Tidak ada jejak apa pun di luar sana, selain bau anyir darah segar yang entah dari mana asalnya.
Keesokan harinya, Rendi mengemasi barang-barangnya tanpa berkata sepatah kata pun. Sebelum ia pergi, ia meninggalkan sebuah catatan peringatan di pintu kamarnya: "Jangan pernah menempelkan telinga ke dinding itu." Tiga hari kemudian, kontrakan itu kembali diisi oleh mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa. Dan malam itu, ketukan tiga kali itu kembali dimulai.