Kisah Urban Legend

Pesan Terakhir dari Nomor Tidak Dikenal

Pesan Terakhir dari Nomor Tidak Dikenal

Malam itu adalah malam minggu yang sepi bagi Rina. Mahasiswi tingkat akhir itu baru saja menyelesaikan bab terakhir skripsinya. Ia merebahkan tubuh lelahnya ke kasur, menatap langit-langit kamar kosnya yang remang-remang, saat ponselnya tiba-tiba bergetar pendek. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk.

Rina meraih ponselnya dan mengernyitkan dahi. Pesan itu datang dari nomor asing dengan kode negara aneh, +000. Tidak ada foto profil, tidak ada status. Hanya sebuah pesan teks singkat yang membuat Rina seketika merasa tidak nyaman.

"Mereka di luar."

Rina menghela napas. "Pasti kerjaan si Dika ngerjain gue pakai nomor virtual," gerutunya. Ia langsung membalas, "Jangan bercanda, Dik. Udah malem." Tiga menit berlalu tanpa balasan. Rina hampir meletakkan ponselnya kembali ketika layar itu menyala, menampilkan notifikasi "typing..." yang berlangsung cukup lama.

Sebuah pesan suara (voice note) masuk. Durasinya tepat 1 menit 13 detik. Dengan rasa penasaran yang bercampur sedikit kesal, Rina menekan tombol play. Ia mendekatkan ponsel ke telinganya.

Rekaman itu dibuka dengan suara gemerisik radio rusak (static noise) yang cukup keras, disusul suara napas berat dan putus-putus. Itu suara seorang wanita yang sedang menangis panik sambil berbisik kencang.

"Rina... tolong... Jangan keluar kamar malam ini. Apa pun yang terjadi, jangan buka pintu. Mereka tahu kau sendirian..."

Darah Rina berdesir hebat. Itu bukan suara temannya. Itu suara yang sangat ia kenal, suara Kak Siska, sepupunya. Masalahnya, Kak Siska sudah meninggal dalam kecelakaan tragis lima tahun yang lalu.

"Mereka merangkak di dinding... Mereka tidak punya mata, Rin... Mereka meniru suaraku untuk memancingmu keluar..." suara di rekaman itu semakin histeris, diselingi suara cakaran kuku tajam di permukaan kayu yang sangat jelas terdengar. "Sreett... sreett..."

Tiba-tiba, dari dalam rekaman, terdengar suara ketukan pintu. Tok. Tok. Tok. Tiga ketukan pelan dan berirama. Di dalam rekaman, Kak Siska menjerit tertahan, "TIDAK! MEREKA MASUK! TOLONG—"

Rekaman itu terputus dengan suara decakan daging yang robek disusul tawa serak bernada rendah yang mendirikan bulu kuduk. Rina melempar ponselnya ke ujung kasur dengan gemetar hebat. Udara di kamarnya mendadak terasa membekukan. Jantungnya berdetak liar memukul-mukul rongga dadanya. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, berdoa komat-kamit mencoba mengusir ketakutan yang merayapi tengkuknya.

Selang beberapa menit, keadaan terasa hening. Hening yang sangat absolut, sampai Rina bisa mendengar detak jam dindingnya. Ia mulai bernapas lega, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah orang iseng yang mahir mengedit suara.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat hening malam dipecahkan oleh suara yang sangat nyata. Bukan dari ponselnya, melainkan dari balik pintu kamar kosnya sendiri.

Tok. Tok. Tok.

Tiga ketukan pelan dan berirama. Diikuti oleh suara serak berbisik dari bawah celah pintu kamarnya, "Rina... buka pintunya, Rin... ini Kak Siska... Kakak kedinginan di luar sini..."

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp