Kisah Hantu Jalanan

Penumpang Bus Malam

Penumpang Bus Malam

Jalur Pantura di malam hari adalah dunia yang sama sekali berbeda bagi para pengemudi. Hanya ada deru mesin, sorotan lampu kuning, dan bentangan aspal yang membelah kegelapan. Eko adalah seorang kondektur bus malam lintas Jawa-Bali (PO Setia Kawan) yang sudah memakan asam garam jalanan. Ia tahu titik-titik mana yang rawan perampok bajing loncat, dan titik mana yang rawan "penumpang lain". Salah satu zona merah paling terkenal adalah Hutan Alas Roban—sebuah jalur menanjak berkelok-kelok yang membelah hutan jati lebat di Jawa Tengah, terkenal dengan tikungan maut dan cerita-cerita ganjilnya.

Malam itu bus melaju membelah Alas Roban tepat pukul dua dini hari. Hujan gerimis menambah kesan mistis. Hampir seluruh dari 40 penumpang bus sedang tertidur lelap, diselimuti selimut tipis dan dipeluk udara dingin AC. Supir bus, Pak Yanto, mengemudi dalam keheningan, matanya tajam menatap jalanan yang licin. Eko duduk di kursi cadangan dekat pintu depan, matanya setengah terpejam.

Tiba-tiba, di tengah-tengah jalur tanjakan yang paling sepi, tanpa ada pemukiman atau lampu penerangan jalan sedikit pun, Pak Yanto mengerem bus secara mendadak. Eko nyaris terjerembab ke depan. "Ada apa, Pak?" tanyanya panik.

Pak Yanto menunjuk ke kiri jalan menggunakan dagunya. "Ada penumpang, Ko. Kasihan, hujan-hujan cewek sendirian di tengah hutan begini."

Eko melihat ke luar kaca yang berembun. Memang benar, ada seorang perempuan berdiri di pinggir jalan, memegang sebuah payung hitam lusuh. Ia mengenakan kebaya merah pudar dengan kain jarik batik, pakaian yang sangat kuno untuk zaman sekarang. Wajahnya tertunduk, ditutupi rambut hitam yang basah kuyup. Insting Eko mengatakan ada yang salah, namun sebelum ia sempat memprotes, Pak Yanto sudah membuka pintu hidrolik bus. Terdengar bunyi desis pelan.

Perempuan itu naik dengan gerakan yang sangat kaku, hampir tidak bersuara. Saat ia melewati Eko, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergap, disertai bau kemenyan yang sangat kuat bercampur aroma bunga melati layu. Ia tidak menatap Eko, tidak bertanya apa-apa, dan langsung berjalan menuju deretan kursi paling belakang yang kebetulan kosong.

Eko menelan ludah. "Tiketnya, Mbak," ucapnya ragu-ragu sambil mengikuti perempuan itu ke belakang. Namun ketika ia sampai di baris paling belakang, perempuan itu sama sekali tidak merespons. Ia duduk kaku menatap jendela yang gelap. Karena takut mengganggu penumpang lain yang sedang tidur, Eko memutuskan untuk menagih ongkosnya nanti saat bus beristirahat di rumah makan.

Dua jam kemudian, bus tiba di sebuah restoran rest area di kawasan Kendal. Lampu kabin dinyalakan, Eko berkeliling membangunkan penumpang untuk istirahat dan buang air. Saat ia tiba di barisan paling belakang, jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Kursi itu kosong. Perempuan berkebaya merah itu tidak ada di sana. Mustahil ia turun di jalan, karena pintu bus tidak pernah dibuka sekalipun sejak dari Alas Roban. Dan jendela bus terkunci rapat. Tubuh Eko gemetar hebat. Ia memeriksa kolong kursi, tidak ada siapa-siapa. Namun, di atas jok kursi tempat perempuan itu duduk tadi, tertinggal sebuah tas anyaman bambu kecil yang sudah lapuk dan basah.

Dengan tangan bergetar, Eko membuka tas kecil itu bersama Pak Yanto yang ikut penasaran. Di dalamnya tidak ada dompet atau HP. Hanya ada sekeping koin gulden Belanda berkarat, dan sebuah kliping koran tua yang sudah menguning dan hancur termakan usia. Tanggal koran itu adalah tahun 1987. Judul beritanya terpampang jelas: "Tragedi Bus Masuk Jurang di Alas Roban, Seorang Calon Pengantin Wanita Berkebaya Merah Ditemukan Tewas Mengenaskan."

Sejak malam itu, Pak Yanto dan Eko bersumpah tidak akan pernah lagi menghentikan bus mereka di Alas Roban, betapapun memelasnya sosok yang melambaikan tangan di kegelapan.

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp