Kisah Ritual Gelap

Malam Suro di Gunung Kidul

Malam Suro di Gunung Kidul

Bagi masyarakat pedesaan Jawa, malam 1 Suro bukanlah malam perayaan tahun baru biasa. Ini adalah malam sakral, gerbang perbatasan antara dunia manusia dan dunia gaib terbuka paling lebar. Di Desa Nglipar, sebuah desa terpencil di kaki perbukitan kars Gunung Kidul, aturan malam Suro sangat kaku dan tak tertulis: begitu matahari tenggelam ufuk barat, semua warga harus masuk ke rumah, mengunci pintu rapat-rapat, menutup jendela rapat, mematikan seluruh penerangan, dan tidak boleh mengeluarkan suara bising hingga ayam pertama berkokok di pagi hari. Mereka percaya, pada malam itu, barisan makhluk tak kasat mata melakukan "karnaval" melintasi desa.

Prio, seorang pemuda 23 tahun yang lahir dan besar di Jakarta, baru saja pindah ke Nglipar untuk mengurus rumah warisan almarhum kakeknya. Membawa pemikiran rasional khas pemuda ibu kota, Prio hanya tertawa sinis saat Kepala Desa, Pak Warno, mengingatkannya dengan wajah tegang tentang pantangan malam 1 Suro yang jatuh pada malam itu.

"Zaman sudah mau mengirim orang ke Mars, Pak. Masa masih percaya hantu yang ikut karnaval malam-malam?" balas Prio sambil menyeruput kopinya dengan santai. Pak Warno hanya menatapnya penuh iba, "Alam punya aturannya sendiri, Le. Jangan menantang apa yang tidak kau pahami."

Pukul enam sore. Kegelapan menyelimuti Desa Nglipar lebih cepat dari biasanya. Tanpa penerangan jalan, desa itu tampak seperti kuburan massal. Prio sendirian di rumah kakeknya yang besar. Merasa bosan dan tertantang oleh egonya sendiri, Prio menyalakan sebatang rokok, mengambil senter LED terangnya, dan memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah. Ia ingin merekam suasana desa yang sepi itu untuk konten YouTube-nya dengan judul "Mitos Konyol 1 Suro".

Udara malam itu luar biasa dingin dan kering. Prio berjalan menyusuri jalan tanah berbatu menuju area ladang jagung di tepi desa. Ia menyalakan kamera ponselnya. "Guys, lihat nih. Sepi banget. Kata orang kampung sini hantu-hantu lagi pada pawai. Mana? Kosong melompong begini," ucapnya ke arah kamera dengan nada meremehkan.

Tepat setelah kalimat itu terucap, angin bertiup kencang, menggoyang batang-batang jagung setinggi dua meter. Namun suara gemerisik daun jagung itu perlahan berubah. Bukan suara angin. Itu suara ratusan kaki telanjang yang berjalan beriringan di atas tanah kering, disusul oleh gemerincing kerincing gelang kaki, dan gumaman mantra berbahasa Jawa kuno yang dibisikkan secara serentak.

"Siji... Loro... Telu..." gumaman itu terdengar dari berbagai arah, mengepung ladang jagung tempat Prio berdiri.

Kepercayaan diri Prio runtuh seketika. Senter LED-nya tiba-tiba berkedip dan meredup hingga mati total, meninggalkan Prio hanya dengan cahaya temaram dari layar ponselnya. Ia menelan ludah, mencoba merekam arah suara itu. Di tengah pekatnya malam, dari sela-sela batang jagung di depannya, muncul sebuah prosesi yang membuat darahnya membeku.

Puluhan sosok berjalan berbaris rapi. Mereka tidak menyentuh tanah. Wajah mereka tertutup kain hitam berlumuran tanah kuburan. Mereka memikul sebuah keranda mayat kuno dari kayu jati yang berderit-derit setiap kali bergerak. Di belakang keranda itu, berjalan sesosok tinggi besar, mengenakan jubah kebesaran kerajaan masa lalu yang terkoyak-koyak, dengan mahkota emas yang berkarat di kepalanya. Mata sosok rajawi itu bersinar merah menyala seperti bara api.

Saat prosesi itu lewat tepat di hadapan Prio yang bersembunyi membeku di balik pohon pisang, sosok bertubuh raksasa itu menghentikan langkahnya. Rombongan pawai gaib itu berhenti serentak. Perlahan, sangat perlahan, kepala sang raja memutar menatap tepat ke arah Prio berada.

Sebuah seringai terbentuk di wajahnya yang setengah membusuk. "Cah edan... (Anak gila)" desis sosok itu, suaranya menggelegar menghantam pikiran Prio. Sosok itu perlahan mengangkat satu tangannya yang tinggal tulang berlapis kulit kering, menunjuk lurus ke dada Prio.

Prio menjerit sejadi-jadinya, melempar ponselnya, dan berlari menerobos ladang jagung tanpa memedulikan wajah dan tangannya yang tersayat daun-daun tajam. Ia berlari bagai orang kesetanan hingga menabrak pintu rumah kakeknya, menguncinya berlapis-lapis, dan bersembunyi di bawah meja ruang tamu sambil menangis menggigil hingga matahari terbit.

Keesokan paginya, warga desa menemukan ponsel Prio tertinggal di ladang. Video yang terekam di dalamnya hanyalah layar hitam yang dipenuhi suara interferensi statis. Namun di akhir video, terdengar sangat jelas tawa berat yang mengerikan, disusul bisikan, "Tunggu giliranmu tahun depan." Sejak malam itu, rambut Prio yang hitam legam berubah memutih seluruhnya, dan ia tak pernah bisa tidur tanpa lampu menyala terang benderang.

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp