Kisah Urban Legend

Lift Lantai 13

Lift Lantai 13

Gedung Menara Centra menjulang tinggi di kawasan Segitiga Emas ibu kota. Dengan fasad kaca modern dan lobi berlapis marmer Italia, gedung ini adalah lambang kesuksesan korporat. Menurut denah resmi dan tombol di setiap lift, gedung ini memiliki 25 lantai kerja. Namun, jika Anda bertanya kepada petugas kebersihan senior atau satpam shift malam, mereka akan berbisik memalingkan muka, memperingatkan Anda tentang anomali yang tak terpecahkan: Lantai 13.

Sama seperti gedung pencakar langit lainnya, Menara Centra menghilangkan angka 13 karena mitos kesialan. Lift akan melompat langsung dari lantai 12 ke lantai 14. Namun, sistem elektronik sering kali bertindak di luar logika manusia. Sandra, seorang akuntan junior yang baru pindah kerja, harus belajar dengan cara yang paling traumatis.

Malam itu, akhir bulan adalah jadwal tutup buku. Sandra adalah orang terakhir di lantai 18. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23:45. Setelah mematikan lampu divisi, ia melangkah menyusuri koridor sepi menuju deretan lift utama. Ia menekan tombol turun. Lift nomor 3 tiba dengan dentingan lembut. Pintunya terbuka, memperlihatkan kabin stainless steel yang kosong dan bercahaya terang. Sandra masuk dan menekan tombol 'L' (Lobi).

Lift meluncur turun dengan mulus. Indikator LED digital menghitung mundur dengan cepat: 18... 17... 16... Namun, saat mencapai angka 14, lift tiba-tiba berguncang hebat. Lampu neon di langit-langit kabin berkedip-kedip sebelum mati total, meninggalkan Sandra dalam kegelapan pekat selama beberapa detik. Ketika lampu darurat menyala dengan cahaya merah redup, indikator LED tidak lagi menampilkan angka, melainkan simbol error yang aneh. Dan lift itu berhenti perlahan.

Pintu terbuka dengan bunyi gesekan besi karatan yang menyilukan telinga.

Udara yang masuk ke dalam kabin lift terasa pengap, berbau seperti kertas lapuk dan kapur barus. Di depan Sandra, bukan lobi terang benderang yang ia harapkan, melainkan sebuah koridor panjang bergaya retro tahun 80-an. Wallpaper dindingnya bermotif bunga kusam yang mengelupas, dan lantainya ditutupi karpet tebal merah marun yang sudah menghitam karena noda kotoran. Pencahayaan di koridor itu sangat minim, hanya berasal dari bola lampu pijar yang bergoyang pelan tertiup angin yang entah berasal dari mana.

Sandra membeku. Insting bertahannya berteriak untuk tetap berada di dalam lift dan menekan tombol tutup pintu. Ia menekan tombol bertubi-tubi dengan panik, tapi panel lift benar-benar mati. Lift itu seolah menolak untuk pergi. Mau tidak mau, ia melangkah ragu-ragu keluar kabin, berharap menemukan tombol interkom atau tangga darurat.

Suasana koridor itu sangat hening. Setiap langkah sepatu hak tinggi Sandra tenggelam ditelan karpet tebal. Saat ia berjalan menyusuri lorong, ia menyadari sesuatu yang janggal. Di kiri-kanan koridor terdapat bilik-bilik kerja kayu tua. Di dalam setiap bilik, ada sesosok bayangan duduk membelakanginya, menghadap ke arah monitor komputer tabung jadul yang layarnya memancarkan cahaya hijau fosfor.

Tak... tak... tak... Suara mesin tik dan ketikan keyboard bergema berirama. Para "karyawan" itu sedang bekerja dalam keheningan mematikan.

"Pe... permisi," suara Sandra bergetar. "Apakah ada tangga darurat?"

Suara ketikan mendadak berhenti serentak. Hening total. Belasan sosok di bilik itu perlahan memutar kursi mereka secara bersamaan menghadap ke koridor tempat Sandra berdiri. Wajah mereka rata. Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya selembar kulit halus yang menutupi bagian depan kepala mereka. Namun entah bagaimana, Sandra tahu mereka semua sedang "menatap" tajam ke arahnya.

Satu sosok dari ujung koridor bangkit berdiri. Ia mengenakan kemeja lusuh berlumuran noda hitam pekat. Sosok itu mulai berjalan ke arah Sandra, tidak melangkah, melainkan menggeser kakinya dengan gerakan patah-patah yang cepat. Suara gesekan sepatunya di karpet terdengar seperti bisikan menakutkan.

Sandra berbalik dan berlari sekencang mungkin kembali ke arah lift. Ia menangis histeris. Tepat ketika sosok itu tinggal beberapa langkah darinya dan mengulurkan tangan pucatnya, lampu utama lift menyala terang dan pintunya bersiap menutup. Sandra melompat masuk dan terjatuh di lantai kabin, membentur panel tombol keras. Pintu lift berdebam menutup, memutuskan kontak dengan lantai kutukan itu.

Ketika pintu terbuka kembali, Sandra sudah berada di lobi utama yang terang benderang dengan satpam yang kaget melihatnya menangis di lantai lift. Ia tidak pernah kembali ke Menara Centra keesokan harinya. Dan hingga kini, petugas teknisi tak pernah bisa menjelaskan mengapa sistem komputer lift nomor 3 selalu mencatat rute perjalanan Sandra malam itu: Lantai 18 turun ke Lantai 13, terhenti selama 4 jam, sebelum akhirnya turun ke Lobi.

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp