Kisah Kuntilanak

Kuntilanak Jembatan Merah

Kuntilanak Jembatan Merah

Bagi supir-supir truk malam rute Surabaya-Malang, nama Pak Surya adalah legenda hidup. Ia sudah dua belas tahun mengaspal, menaklukkan jalanan berkelok, menembus kabut tebal, dan melewati kawasan-kawasan sepi tanpa rasa takut. Pantangan di jalan adalah hal biasa baginya—jangan buang air sembarangan, selalu bunyikan klakson di tikungan tajam, dan yang terpenting: jangan pernah berhenti di Jembatan Merah setelah lewat jam dua belas malam. Jembatan yang membentang di atas sungai beraliran deras itu menjadi saksi bisu berbagai kecelakaan maut dan kasus bunuh diri.

Malam itu adalah malam Jumat Kliwon. Gerimis turun membungkus jalan raya dalam suasana muram. Jam digital di dashboard truk Pak Surya menunjukkan pukul 02:15 WIB. Truknya bermuatan pupuk berat, berjalan lambat membelah jalanan aspal basah. Lampu depannya menyorot menembus kabut, memperlihatkan struktur baja Jembatan Merah yang mulai terlihat dari kejauhan.

Pak Surya menyalakan radio tua di kabinnya, memutar lagu dangdut koplo dengan volume tinggi untuk mengusir kantuk. Namun, tepat ketika truknya mencapai pangkal jembatan, radio itu tiba-tiba mati total. Suasana berubah hening seketika. Hanya terdengar suara deru mesin diesel dan rintik hujan di kaca depan. Di tengah keheningan yang mencekam itu, sorot lampu truk menangkap sesuatu di bahu jalan.

Seorang wanita muda berdiri menunduk di pinggir jembatan. Ia mengenakan gaun putih panjang yang sudah basah kuyup oleh hujan, rambut hitam legamnya yang panjang terurai menutupi sebagian wajahnya. Tangan kanannya terangkat pelan, melambai, memberi tanda agar truk berhenti. Insting pertama Pak Surya adalah menginjak gas, mengingat mitos jembatan itu. Tapi hati kecilnya berkata lain. "Mungkin dia korban mogok atau perampokan," pikirnya, iba melihat sosok wanita sendirian di tengah malam buta di lokasi antah berantah.

Ia menepikan truk perlahan. Suara rem angin mendesis memecah keheningan malam. Pak Surya menurunkan kaca jendelanya sedikit. Angin malam yang luar biasa dingin seketika berhembus masuk, membawa aroma yang sangat aneh—campuran antara wangi melati yang menyengat dan bau amis darah busuk.

"Neng, jam segini ngapain di sini? Bahaya lho," tanya Pak Surya setengah berteriak. Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya. Kulitnya pucat pasi tanpa rona sedikit pun. Matanya hitam, kosong, menatap menembus diri Pak Surya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang aneh.

"Numpang ke depan... Pak..." suaranya terdengar sengau dan bergema, seolah datang dari tempat yang jauh.

Tanpa menunggu jawaban, terdengar suara pintu kiri truk terbuka dan tertutup kembali. Pak Surya terkejut. Wanita itu tiba-tiba sudah duduk di bangku penumpang di sebelahnya. Bulu kuduk Pak Surya meremang. Ia mencoba bersikap tenang, memindahkan persneling dan kembali melajukan truk. Sepanjang perjalanan melintasi jembatan itu, keheningan di dalam kabin terasa sangat mencekik.

"Rumahnya di mana, Neng?" Pak Surya mencoba memecah kesunyian, matanya tetap terpaku ke jalan. Tidak ada jawaban. Hawa dingin di kabin semakin menusuk tulang.

Pak Surya melirik ke kaca spion tengah untuk melihat wajah penumpangnya, dan saat itulah jantungnya seolah berhenti berdetak. Di kaca spion, bangku penumpang di sebelahnya terlihat kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa. Dengan gemetar hebat, ia memalingkan wajahnya perlahan ke bangku kiri.

Wanita itu masih ada di sana. Duduk kaku menghadap ke depan. Namun kini kepalanya perlahan berputar, 180 derajat ke belakang, menatap langsung ke arah Pak Surya dengan mata yang kini sepenuhnya putih.

"Terima kasih sudah mengantar... ke neraka..." bisiknya disusul dengan tawa melengking yang menyayat hati—Hihihihi... tawa khas kuntilanak yang menggema memenuhi seluruh kabin, membuat gendang telinga Pak Surya serasa mau pecah.

Pak Surya menginjak rem sekuat tenaga, membuat truk itu terseret beberapa meter sebelum berhenti mendadak di tengah jalan. Saat ia membuka mata yang sempat terpejam karena ketakutan, sosok wanita itu lenyap tak berbekas. Yang tertinggal di kursi penumpang hanyalah bau melati busuk, dan sebuah bercak merah gelap berbentuk telapak tangan panjang dengan kuku tajam di atas jok kulit sintetisnya.

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp