Hantu Perpustakaan Kampus
Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Nusantara adalah bangunan tua bernuansa arsitektur Brutalisme peninggalan tahun 70-an. Lorong-lorong rak bukunya yang tinggi, sempit, dan berbau khas kertas lapuk menjadikannya tempat yang sempurna bagi konsentrasi—atau teror. Aturan resminya, perpustakaan tutup pukul 21:00 WIB. Namun, bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang melawan tenggat waktu skripsi seperti Fadli, satpam kampus sering memberikan kelonggaran untuk lembur di area baca lantai 3 hingga lewat tengah malam.
Selama beberapa minggu pertama, semuanya berjalan lancar. Fadli menyukai keheningan absolut lantai 3 di malam hari. Ia bisa fokus mengetik ribuan kata tanpa gangguan. Hingga tibalah suatu malam di bulan November, ketika angin hujan menderu menghantam jendela kaca besar perpustakaan. Waktu menunjukkan pukul 23:45 WIB. Fadli adalah satu-satunya mahasiswa yang tersisa di seluruh gedung, atau setidaknya, begitulah pikirnya.
Saat asyik mengetik bab metodologi penelitian, Fadli berhenti sejenak untuk meregangkan punggungnya. Pada detik itulah keheningan dipecahkan oleh suara asing dari lorong rak nomor 13—bagian Literatur Sejarah Kuno yang letaknya paling pojok dan paling redup pencahayaannya.
Taktaktaktaktak... Taktaktak... Ting!
Itu bukan suara ketikan keyboard laptop modern. Itu adalah suara keras dan ritmis dari sebuah mesin tik manual tua (typewriter). Ritmenya sangat cepat, konstan, dan terdengar sangat marah. Fadli mengernyit. "Perasaan dari tadi gue sendirian di sini. Anak sejarah kali ya lagi ngerjain tugas pake mesin tik jadul biar estetik," gumamnya dalam hati mencoba berpikir positif.
Karena suara ketikan itu mengganggu konsentrasinya, Fadli memutuskan bangkit dan berjalan menuju lorong nomor 13. "Bro, sorry, ketikannya pelanin dikit bisa—" ucapannya terhenti di ujung lidah saat ia tiba di ujung lorong.
Duduk di salah satu kursi baca tua, memunggunginya, adalah sesosok mahasiswa laki-laki. Penampilannya sangat janggal. Ia mengenakan jaket almamater kampus yang model dan warnanya sudah pudar kecokelatan—model jaket yang terakhir kali dipakai oleh angkatan awal tahun 90-an. Rambutnya gondrong sebahu, gaya khas aktivis mahasiswa zaman dulu. Ia menunduk fokus mengetik di atas mesin tik tua karatan yang entah dari mana asalnya. Kertas yang ada di mesin tik itu tampak kotor oleh noda merah kecokelatan.
Udara di sekitar lorong itu mendadak turun drastis hingga napas Fadli mengepulkan uap putih. Aroma buku tua berganti menjadi bau menyengat kapur barus dan melati layu.
Mahasiswa asing itu tiba-tiba berhenti mengetik. Kesunyian kembali mencekik. Perlahan, sangat lambat, kepala sosok itu berputar ke belakang tanpa menggerakkan badannya. Lehernya berbunyi patah-patah yang mengerikan. Wajahnya membuat Fadli lumpuh total. Wajah itu hancur separuh, bagian tengkoraknya retak parah dengan sebelah bola mata yang menjuntai keluar menggantung di pipinya yang pucat kebiruan.
Bibir sosok yang robek itu bergerak kaku, mengeluarkan suara bisikan serak yang menggema langsung di dalam tengkorak Fadli.
"Bab... empatku... belum... selesai... Kau mau... membantuku... mengetiknya?"
Fadli tak sanggup berteriak. Jantungnya berpacu gila-gilaan, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan laptop, tas, dan seluruh barangnya di atas meja. Ia menuruni tangga darurat tiga langkah sekaligus, berlari menembus hujan deras menuju pos satpam utama di gerbang depan sambil menangis ketakutan.
Keesokan harinya, ditemani satpam dan seorang dosen pembimbingnya, Fadli kembali ke lantai 3 untuk mengambil barang-barangnya. Semuanya masih utuh. Namun, ketika mereka memeriksa meja baca di lorong nomor 13, tidak ada jejak mesin tik atau mahasiswa misterius itu. Yang ada hanyalah selembar kertas HVS kuno yang menguning tergeletak di atas meja. Di atas kertas itu tertulis satu baris kalimat pendek yang diketik menggunakan tinta merah darah:
"SKRIPSI INI HARUS SELESAI, ATAU KAU YANG AKAN MENEMANIKU DI SINI SELAMANYA."
Menurut arsip lama perpustakaan, pada tahun 1993, seorang mahasiswa senior fakultas sastra bunuh diri dengan melompat dari jendela lantai 3 tepat di lorong nomor 13, akibat depresi berat skripsinya ditolak tujuh kali berturut-turut oleh dosen pengujinya. Mahasiswa itu mengenakan jaket almamater kebanggaannya saat tubuhnya menghantam paving block di bawah sana.