Kisah Genderuwo

Genderuwo di Hutan Pinus

Genderuwo di Hutan Pinus

Ada aturan tidak tertulis yang dijaga ketat oleh penduduk Desa Karanganyar: jangan pernah berkemah atau melintasi Hutan Pinus Gunung Merbabu setelah matahari terbenam. Hutan itu terlalu lebat, terlalu sunyi, dan menurut legenda setempat, merupakan wilayah kekuasaan makhluk besar tak kasat mata. Tapi bagi Bagas, Riko, Tio, dan Dimas—empat mahasiswa pencinta alam dari sebuah universitas di Jakarta—aturan itu hanyalah mitos kuno untuk menakut-nakuti anak kecil.

Mereka mendirikan tenda di sebuah dataran lapang di tengah hutan. Sore itu semuanya tampak sempurna. Kabut tipis yang turun menambah kesan estetis untuk foto-foto Instagram mereka. Saat malam tiba, mereka menyalakan api unggun kecil, memasak mi instan, dan bermain gitar sambil bertukar cerita horor murahan. Tawa mereka memecah keheningan hutan yang membeku.

Tepat ketika jam di ponsel Bagas menunjukkan angka 02:45 dini hari, suhu udara merosot tajam. Api unggun mereka, yang tadinya menyala terang, tiba-tiba mengecil dan mati total, bukan karena tertiup angin, tapi seolah-olah oksigen di sekitarnya tersedot habis. Diikuti oleh bau apek yang luar biasa menyengat—bau seperti campuran antara bulu binatang basah, tanah kuburan, dan daging busuk.

Riko yang sedang memetik gitar berhenti. "Kalian nyium bau itu nggak?" bisiknya, suaranya bergetar. Keempat pemuda itu terdiam, menajamkan pendengaran. Dari kegelapan pepohonan pinus di sebelah timur tenda, terdengar suara langkah kaki. Bukan langkah kaki manusia. Langkah itu lambat, tapi sangat berat, hingga membuat ranting-ranting patah dengan suara berderak keras. KRAKK... KRAKK...

Bagas perlahan menyalakan senter besarnya dan mengarahkannya ke sumber suara. Cahaya senter itu menembus kabut, menyapu deretan pohon pinus, hingga akhirnya berhenti pada sebuah batang pohon yang ukurannya tidak wajar. Tapi itu bukan pohon.

Itu adalah sepasang kaki besar yang dipenuhi bulu hitam kasar. Bagas menelan ludah, perlahan mengarahkan senternya ke atas. Terus ke atas. Makhluk itu tingginya lebih dari tiga meter, menjulang hampir menyamai dahan terendah pohon pinus. Tubuhnya sangat besar dan berotot, ditutupi bulu lebat kemerahan dan hitam legam. Di antara wajahnya yang mengerikan bak kera raksasa dengan taring mencuat keluar, sepasang mata merah menyala menatap lurus ke arah mereka dengan amarah yang menggelegak.

Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa berteriak. Pita suara mereka seolah lumpuh oleh teror absolut. Makhluk itu membuka mulutnya, dan mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat dada keempat pemuda itu bergetar hebat. Grrrrrhhhh...

"LARI!!!" jerit Tio tiba-tiba, memecah kelumpuhan mereka. Mereka berhamburan ke segala arah, meninggalkan tenda, ransel, ponsel, dan kunci motor. Bagas berlari tanpa arah menembus semak belukar berduri, sesekali tersandung akar pohon dalam kegelapan pekat. Suara langkah berat makhluk itu terus mengikutinya dari belakang, seolah sedang mempermainkan buruannya.

Pagi harinya, Tim SAR dan warga desa menemukan mereka terpencar di berbagai sudut hutan. Mereka semua dalam keadaan shock berat, babak belur akibat terjatuh, dan tak bisa bicara sepatah kata pun. Ketika warga kembali ke lokasi perkemahan untuk mengambil barang-barang mereka, pemandangannya sangat mengerikan. Tenda mereka tidak hanya robek, tapi hancur berkeping-keping. Dan di atas tanah basah di sekitar tenda, tercetak jelas puluhan jejak telapak kaki raksasa berukuran hampir setengah meter, melingkari sisa-sisa api unggun mereka.

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp