Kisah Hantu Rumah Sakit

Dokter Malam di IGD

Dokter Malam di IGD

Bagi Suster Ratna, IGD Rumah Sakit Harapan Bunda bukan sekadar tempat kerja, melainkan medan pertempuran harian antara hidup dan mati. Bekerja shift malam (jam 9 malam hingga 7 pagi) sudah menjadi rutinitasnya selama empat tahun. Ia terbiasa dengan aroma obat-obatan yang tajam, suara monitor detak jantung, dan kepanikan pasien yang masuk dengan luka robek atau pendarahan parah. Ratna dikenal sebagai perawat senior yang tangguh dan tidak percaya hal-hal mistis yang sering dibicarakan staf kebersihan.

Namun, pendiriannya runtuh pada suatu malam di bulan November yang hujan deras. Saat itu pukul 02:30 dini hari. IGD sedang sangat sepi, hanya ada satu pasien kecelakaan lalu lintas yang sudah ditangani. Ratna sedang merapikan catatan rekam medis di meja nurse station ketika pintu otomatis IGD tiba-tiba terbuka lebar.

Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah tenang. Ia mengenakan jas dokter putih bersih yang disetrika rapi, stetoskop melingkar di lehernya, dan sebuah kacamata baca tebal bertengger di hidungnya. Wajahnya ramah, meski terlihat pucat dan lelah. Di saku kiri jasnya tergantung ID card rumah sakit. Ratna mengerutkan kening. Ia mengenal semua dokter jaga di rumah sakit itu, tapi wajah pria ini sama sekali tidak familier. Namun aura wibawanya membuat Ratna segan untuk langsung menginterogasi.

Tiba-tiba, suara sirine ambulans meraung-raung memecah keheningan. Petugas paramedis bergegas masuk membawa brankar yang mengangkut seorang pria korban serangan jantung. Wajah pasien sudah membiru, nadinya nyaris tak teraba. Ratna dan timnya segera bergerak panik, menyiapkan defibrillator dan obat-obatan darurat.

"Biar saya yang ambil alih. Kalian siapkan injeksi Epinefrin, segera," perintah dokter asing itu dengan suara berat yang tegas dan menenangkan.

Insting profesional Ratna langsung bekerja. Ia mengikuti instruksi dokter itu tanpa banyak tanya. Tangan dokter itu bergerak luar biasa cekatan, sangat terampil dan presisi. Setiap kompresi dada yang ia lakukan seolah menyalurkan kehidupan. "Clear!" serunya saat alat pacu jantung digunakan. Dalam waktu kurang dari lima menit yang sangat menegangkan, keajaiban terjadi. Pasien itu terbatuk pelan, ritme sinus pada monitor EKG kembali stabil.

Semua perawat menghela napas lega. Ratna menoleh untuk mengucapkan terima kasih. "Kerja yang luar biasa, Dok. Maaf, dokter dari divisi mana ya? Biar saya catat untuk laporan," tanya Ratna sambil mendekat untuk melihat ID card di saku pria itu.

Nama di ID card itu tertulis jelas: Dr. Handoko Wijaya - Spesialis Jantung.

Dokter Handoko menatap Ratna, memberikan senyum tipis yang hangat, namun matanya memancarkan kesedihan yang sangat dalam. "Tolong rawat dia baik-baik, Suster. Dia masih punya anak kecil yang menunggunya," ucapnya pelan. Saat Ratna menoleh sebentar untuk mengambil papan jalan (clipboard), dan kembali menghadap pria itu, sosok Dokter Handoko sudah tidak ada. Lenyap begitu saja di tengah ruangan IGD yang terang benderang. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada pintu yang terbuka.

Ratna mencari ke setiap sudut ruangan, toilet, hingga lorong luar, tapi nihil. Paginya, dengan perasaan tidak tenang, Ratna menghadap Kepala IGD, Dr. Surya, untuk melaporkan kejadian tersebut dan menanyakan identitas Dr. Handoko Wijaya.

Wajah Dr. Surya seketika memucat mendengar nama itu. Ia berdiri, membuka lemari arsip tua di sudut ruangannya, dan mengeluarkan sebuah album foto berdebu. Ia menunjuk sebuah foto usang dari tahun 1990-an.

"Apakah ini orangnya, Ratna?"

Ratna menahan napas. Itu persis wajah dokter tadi malam. Senyum yang sama, kacamata yang sama. "I... iya Dok. Siapa dia?"

Dr. Surya menutup album itu dengan tangan gemetar. "Dr. Handoko Wijaya adalah pendiri IGD rumah sakit ini, sekaligus dokter jantung terbaik yang pernah kita miliki. Beliau meninggal dunia lima belas tahun lalu... terkena serangan jantung masif, tepat di ruangan IGD ini, setelah menyelamatkan nyawa seorang pasien di tengah malam."

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp