Boneka Anne
Maya baru saja mewarisi sebuah rumah peninggalan almarhum kakeknya di daerah perbukitan Bandung. Rumah era kolonial Belanda itu besar, dingin, dan penuh dengan barang-barang antik yang berdebu. Sebagai seorang mahasiswi seni yang menyukai hal-hal vintage, Maya memutuskan untuk membersihkan rumah itu sendiri. Pada hari ketiga, saat ia memberanikan diri masuk ke loteng yang gelap dan pengap, ia menemukan sebuah peti kayu jati berukir yang digembok rapat.
Berbekal linggis kecil, Maya berhasil merusak gembok berkarat itu. Di dalam peti, tidak ada emas atau surat berharga. Hanya sebuah gaun pengantin tua yang sudah menguning, dan di bawahnya, terbungkus kain beludru merah, terbaring sebuah boneka porselen berukuran sebesar bayi sungguhan. Boneka itu mengenakan gaun renda bergaya Victoria, dengan rambut ikal keemasan asli manusia, dan mata kaca berwarna biru pucat yang tampak sangat hidup. Di bagian belakang lehernya terukir elegan nama: Anne, 1892.
Maya mengusap debu dari wajah porselen boneka itu. Ada pesona melankolis pada wajahnya. "Cantik sekali," gumam Maya. Ia membawa boneka itu turun dan meletakkannya di atas kursi goyang rotan di sudut ruang tamu, tepat menghadap ke televisi. Malam itu, semuanya terasa normal. Namun, keanehan mulai terjadi pada hari berikutnya.
Sore hari saat Maya pulang dari kampus, ia mendapati posisi boneka itu berubah. Kepalanya, yang tadinya menghadap lurus ke arah TV, kini menoleh ke kiri—tepat menghadap pintu utama, seolah menunggu Maya pulang. Maya mencoba menepis ketakutannya, meyakinkan diri bahwa mungkin pembantunya yang datang setengah hari tadi telah memindahkannya saat membersihkan debu.
Malam kedua, Maya terbangun pukul dua pagi karena merasa sangat haus. Ia turun ke dapur di lantai satu. Saat melewati ruang tamu, ia melirik ke kursi goyang rotan. Kosong. Jantung Maya berdegup kencang. Ia menyalakan lampu ruang tamu. Boneka Anne tidak ada di mana-mana. Dengan panik, ia berlari kembali ke lantai dua. Langkah kakinya terhenti secara mendadak di ujung tangga.
Boneka Anne duduk tegak tepat di tengah-tengah lorong lantai dua, tepat di depan pintu kamar tidur Maya. Mata birunya berkilat tertimpa cahaya bulan dari jendela.
Maya tidak tidur semalaman. Paginya, ia segera menelepon ibunya sambil menangis, menanyakan sejarah rumah itu dan boneka Anne. Suara ibunya di ujung telepon mendadak berubah menjadi sangat serius dan bergetar hebat. "Maya, buang boneka itu, atau bakar sekarang juga. Kakek mengurungnya di loteng berpuluh tahun lalu setelah adik perempuannya yang paling kecil, Tante Anne, meninggal karena TBC. Tante Anne sangat menyayangi boneka itu, sampai-sampai rohnya menolak pergi dan memilih masuk ke dalam porselen itu. Boneka itu sering mencelakai orang asing yang masuk ke rumah."
Maya segera membungkus boneka itu dengan karung plastik dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir di ujung jalan. Ia mengunci semua pintu rapat-rapat. Malamnya, ia akhirnya bisa tertidur pulas karena kelelahan ekstrim.
Hingga tepat pukul tiga dini hari, Maya terbangun karena merasakan beban yang sangat berat dan dingin di dadanya. Ia membuka mata perlahan. Di atas dadanya, boneka Anne sedang duduk mengangkang. Senyum manis porselennya kini terlihat robek dan menyeramkan. Tangan-tangan mungil yang keras seperti batu itu sedang mencekik leher Maya dengan kekuatan yang tidak masuk akal, sementara suara tangisan anak kecil yang cengeng berbisik di telinganya, "Kenapa... kau... membuangku...?"