Bayangan di Cermin
Nadia adalah seorang desainer interior yang memiliki obsesi berlebihan pada barang-barang antik beraura gothic. Apartemen mewahnya di pusat kota dipenuhi dengan perabotan era kolonial Belanda. Suatu akhir pekan, saat menyusuri los tersembunyi di Pasar Loak Jalan Surabaya, Jakarta, matanya terpaku pada sebuah cermin rias lantai (standing mirror) yang sangat megah. Bingkainya terbuat dari kayu eboni hitam yang diukir rumit membentuk sulur-sulur tanaman berduri, dengan kaca tebal yang memiliki bercak-bercak kehitaman khas cermin berumur ratusan tahun.
Pedagang tua penjual cermin itu tampak ragu saat Nadia menanyakan harganya. "Neng, cermin ini titipan keluarga tua di Magelang. Harganya murah, tapi syaratnya: Neng jangan pernah bercermin di depan kaca ini setelah jam 12 malam, dengan penerangan hanya sebatang lilin," pesannya serius. Nadia hanya tertawa menganggap itu sekadar trik marketing untuk menambah kesan mistis. Ia membayarnya lunas dan menyewa mobil pikap untuk membawa cermin itu ke apartemennya.
Cermin itu ditempatkan di sudut kamar tidur Nadia, menambah kesan elegan dan dramatis pada ruangannya. Tiga hari pertama berlalu tanpa kejadian berarti. Nadia menyukai cermin itu karena ukurannya yang besar membuatnya leluasa memeriksa penampilan (outfit) sebelum berangkat kerja. Namun, kejanggalan kecil mulai muncul pada hari keempat.
Nadia menyadari ada yang salah dengan refleksinya. Saat ia mengangkat tangan kanannya untuk menyisir rambut, bayangannya di dalam cermin baru mengikuti gerakannya sekitar satu detik kemudian. Jeda waktu yang tidak masuk akal itu membuat Nadia tertegun. "Ah, mungkin aku cuma kelelahan, mataku jadi kurang fokus," batinnya menghibur diri.
Puncaknya terjadi pada suatu malam badai petir. Listrik di seluruh gedung apartemen padam total sekitar pukul 23:45. Dalam kegelapan gulita, Nadia menyalakan sebatang lilin aroma terapi besar dan meletakkannya di atas meja rias, tepat di samping cermin antik tersebut. Cahaya lilin yang temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding kamarnya.
Nadia duduk di tepi tempat tidur, tanpa sengaja memandang ke arah cermin. Ia terkesiap. Bayangan di dalam cermin itu bukan lagi kamar apartemennya yang modern. Cermin itu memperlihatkan sebuah kamar tidur tua yang sangat mewah namun berantakan bergaya Eropa klasik. Wallpaper dindingnya mengelupas, tempat tidurnya memiliki kelambu yang sobek-sobek. Dan Nadia melihat refleksinya sendiri di dalam cermin itu... tapi itu bukan dirinya.
Di dalam refleksi cermin itu, Nadia mengenakan gaun tidur sutra putih bergaya abad ke-19 yang berlumuran noda merah segar di bagian perutnya. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dengan mata yang merah menangis darah. Bayangan wanita yang sangat mirip dengan Nadia itu sedang menatap keluar cermin dengan tatapan memohon yang menyayat hati.
Nadia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya lumpuh oleh ketakutan yang menjalar dingin di sarafnya. Bayangan wanita dalam cermin itu perlahan mengangkat satu tangannya yang berdarah, lalu menempelkannya ke permukaan kaca dari arah dalam. Yang membuat Nadia menjerit tertahan hingga nyaris pingsan adalah, saat tangan bayangan itu menyentuh kaca, Nadia bisa mendengar suara cakar kuku yang menggores kaca dari dalam kamarnya sendiri.
Sreeeett... Sreeeett...
Bayangan itu membuka mulutnya, dan sebuah suara bisikan wanita Belanda terdengar menggema di seluruh kamar Nadia, "Tolong... biarkan aku keluar... gantikan tempatku..."
Sebuah retakan tipis tiba-tiba muncul di tengah cermin itu. Nadia melempar lilin di dekatnya ke arah cermin dengan panik. Kaca tebal itu pecah berkeping-keping di lantai, mengakhiri visi mengerikan tersebut bersamaan dengan menyalanya kembali listrik apartemen.
Keesokan harinya, Nadia memanggil tukang untuk membersihkan dan membuang bingkai beserta pecahan kaca cermin itu sejauh mungkin. Namun, sejak kejadian malam itu, Nadia tidak pernah berani lagi melihat ke cermin mana pun. Karena setiap kali ia bercermin, ia selalu merasa bahwa bukan dirinya yang membalas tatapannya, melainkan wanita bergaun putih bernoda darah yang sedang menunggunya dengan sabar di sisi lain dimensi cermin tersebut.