Kisah Arwah

Arwah Penasaran di Pantai Kuta

Arwah Penasaran di Pantai Kuta

Dimas adalah seorang fotografer profesional spesialis landscape yang karyanya sering menghiasi majalah-majalah travel internasional. Ia telah berkeliling Indonesia, merekam keindahan alam dari puncak pegunungan hingga dasar laut. Dimas adalah pria yang sangat logis; baginya, cahaya, bayangan, eksposur, dan komposisi adalah realitas mutlak. Takhayul tentang penampakan, hantu, atau arwah penasaran adalah omong kosong yang diciptakan oleh mereka yang tidak paham tentang efek pantulan cahaya pada lensa (lens flare) atau double exposure.

Suatu senja, Dimas mendapat tugas untuk memotret sunset di Pantai Kuta, Bali. Meski terdengar klise, ia bertekad menangkap angle yang berbeda. Ia berjalan menyusuri bibir pantai hingga ke area yang sangat sepi, jauh dari keramaian turis dan hiruk pikuk kafe. Matahari mulai turun, mewarnai langit dengan gradasi jingga, merah darah, dan ungu gelap. Dimas memasang tripodnya, mengatur aperture, dan mulai memotret tanpa henti, membiarkan ombak menyapu pergelangan kakinya.

Sesi pemotretan berjalan sempurna. Langit sore itu luar biasa indah. Namun, ketika matahari benar-benar tenggelam dan kegelapan mulai merayap, suasana di bagian pantai yang sepi itu berubah. Suara debur ombak terdengar lebih berat, dan angin malam membawa hawa dingin yang tak wajar. Tiba-tiba, dari lensa viewfindernya, Dimas melihat ada seseorang berdiri sekitar dua puluh meter di depannya, menghadap ke laut.

Dengan kesal karena ada objek yang mengganggu komposisi bersihnya, Dimas mengintip langsung. Benar saja, ada seorang wanita muda berdiri mematung. Pakaiannya tampak basah kuyup dan compang-camping, menempel ketat di tubuh kurusnya. Ia hanya menunduk menatap ombak. Berpikir itu mungkin nelayan lokal atau warga pencari kerang, Dimas mengabaikannya dan mengambil beberapa frame terakhir sebelum mengemasi peralatannya pulang ke hotel.

Malam harinya, di kamar hotel yang temaram, Dimas menyeduh kopi hitam dan mulai memindahkan file foto ke laptopnya. Ratusan foto sunset yang memukau muncul satu per satu di layar resolusi tingginya. Ia me-review dengan cepat hingga ia tiba pada foto ke-87. Jarinya terhenti di atas trackpad. Secangkir kopi di tangannya nyaris tumpah.

Foto itu adalah jepretan terakhir saat hari sudah sangat gelap. Di foto itu terlihat wanita yang berdiri di pantai tadi. Namun, resolusi tinggi kamera mirrorless-nya memperlihatkan detail yang mengerikan. Wanita itu difoto dari belakang, tetapi di dalam foto, kepalanya sepenuhnya berbalik ke belakang menghadap kamera, dengan leher yang seolah patah.

Wajahnya bengkak kebiruan layaknya mayat yang sudah lama tenggelam di air laut. Matanya hitam sepenuhnya tanpa putih mata, memancarkan kebencian murni. Mulutnya menganga lebar, seolah mengeluarkan jeritan tanpa suara, dengan air laut kotor dan rumput laut menetes dari sela giginya. Tapi yang membuat darah Dimas membeku bukan hanya wajah itu. Melainkan bahwa sosok wanita itu melayang beberapa sentimeter di atas pasir basah tanpa bayangan sedikit pun di bawah cahaya bulan yang tertangkap kamera.

Dengan panik, Dimas memperbesar area wajah di foto tersebut. Ia ingin mencari bukti bahwa itu hanya editan yang terselip, atau kesalahan sensor. Tapi detail kulit yang mengelupas dan pasir di rambut sosok itu terlalu nyata. Saat Dimas masih terpaku menatap layar monitornya yang terang, suhu kamarnya tiba-tiba merosot drastis.

Terdengar suara tetesan air di lantai parket kamarnya. Tes... Tes... Tes...

Dimas menahan napas. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Dari pantulan layar laptopnya yang gelap di tepi bingkai monitor, ia melihatnya. Sesosok wanita berwajah kebiruan berdiri tepat di belakang kursi kerjanya, meneteskan air laut kotor ke karpet hotel. Sebuah tangan dingin dan basah dengan kuku-kuku hitam perlahan mendarat di pundak Dimas, disusul bisikan serak yang membekukan kewarasannya,

"Kenapa... kau... memotretku...?"

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp