DWP Kemendagri Luncurkan Pelatihan Decoupage: Janji Kemandirian Ekonomi atau Sekadar Hiasan Sepatu?

Ekonomi
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

DWP Kemendagri Luncurkan Pelatihan Decoupage: Janji Kemandirian Ekonomi atau Sekadar Hiasan Sepatu?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ketua Niken Tomsi Tohir menggelar pelatihan decoupage pada sepatu di IPDN Cilandak.
  • Pelatihan ditujukan untuk mengubah hobi menjadi produk bernilai jual, sekaligus menambah pendapatan keluarga anggota DWP.
  • Hasil karya direncanakan dipakai pada perayaan Hari Kemerdekaan ke-81, namun ada pertanyaan tentang keberlanjutan dan dampak ekonomi nyata.

Jakarta, 23 Juli 2026 – Dalam sebuah upaya yang diklaim dapat memperkuat kemandirian ekonomi keluarga, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Dalam Negeri Niken Tomsi Tohir membuka pelatihan teknik decoupage pada media sepatu. Acara yang berlangsung di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Cilandak, Jakarta, menampilkan janji bahwa hobi sederhana dapat diubah menjadi sumber pendapatan tambahan.

"Semoga apa yang kita laksanakan pada pagi hari ini dapat menambah pengetahuan ibu‑ibu semua dan bisa menambah income bila nanti kita membuat sendiri di rumah," ujar Niken dalam keterangan tertulis. Ia menekankan bahwa teknik decoupage tidak memerlukan biaya produksi besar; bahan‑bahan seperti tisu bermotif dan lem dapat dibeli di toko atau marketplace, sementara sepatu yang dipakai dalam pelatihan berasal dari perajin lokal.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana pelatihan singkat ini dapat menghasilkan produk yang kompetitif di pasar yang sudah jenuh? Apakah ada mekanisme pendampingan lanjutan, pemasaran, atau akses ke jaringan distribusi yang dapat memastikan bahwa karya tersebut tidak hanya menjadi hiasan semata?

Rencana penggunaan sepatu hasil decoupage pada rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun ke‑81 Kemerdekaan Republik Indonesia menambah dimensi simbolis, namun juga menimbulkan skeptisisme. Apakah acara kenegaraan akan menjadi platform penjualan yang efektif, atau sekadar panggung propaganda yang menutup mata pada tantangan struktural seperti kurangnya modal, pelatihan lanjutan, dan pasar yang terbatas?

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah menelusuri program pemberdayaan ekonomi berbasis kerajinan selama lebih dari satu dekade, saya melihat pola yang berulang: pemerintah sering meluncurkan inisiatif kreatif yang tampak menjanjikan, namun tanpa dukungan ekosistem yang memadai, dampaknya tetap terbatas. Pelatihan decoupage ini, meski terkesan murah dan mudah diakses, belum menjawab pertanyaan fundamental tentang kelangsungan usaha. Tanpa akses ke modal kerja, pelatihan pemasaran digital, dan jaringan distribusi, produk kerajinan kecil cenderung terjebak pada pasar informal dengan margin keuntungan yang tipis.

Selanjutnya, penggunaan sepatu sebagai media seni menimbulkan dilema lingkungan. Sepatu yang diproduksi secara massal sering mengandung bahan sintetis yang sulit didaur ulang. Mengubahnya menjadi barang seni tidak serta‑merta mengurangi jejak ekologis, melainkan berpotensi menambah limbah jika tidak ada rencana daur ulang atau penggunaan kembali yang terstruktur.

Di sisi lain, inisiatif ini dapat menjadi batu loncatan bila diintegrasikan dengan program inkubator kreatif yang menyediakan mentor bisnis, akses ke platform e‑commerce, dan pelatihan lanjutan dalam desain produk. Pemerintah perlu menyiapkan pendanaan mikro atau skema grant khusus bagi anggota DWP yang berhasil mengkomersialkan karyanya, sehingga hobi tidak berakhir pada satu kali pameran.

Terakhir, simbolisme penggunaan karya pada perayaan Hari Kemerdekaan harus dipertimbangkan secara kritis. Jika tujuan utama adalah menonjolkan kebanggaan nasional, maka harus ada transparansi mengenai alokasi anggaran, evaluasi dampak ekonomi, dan pelaporan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa itu, program berisiko menjadi showcase politik yang mengaburkan realitas kebutuhan ekonomi riil anggota DWP.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa yang dapat mengikuti pelatihan decoupage ini?
    A: Pelatihan terbuka untuk semua anggota DWP Kemendagri yang terdaftar, khususnya ibu‑ibu rumah tangga.
  • Q: Apakah ada bantuan modal untuk memproduksi sepatu decoupage secara komersial?
    A: Hingga kini, belum ada skema pendanaan resmi; peserta diharapkan memanfaatkan bahan yang terjangkau dan mencari peluang pasar secara mandiri.
  • Q: Bagaimana cara memasarkan produk decoupage yang dihasilkan?
    A: Pemerintah menyarankan penggunaan platform marketplace dan media sosial, namun belum ada program pelatihan pemasaran digital yang terstruktur.