Terombang‑Ambing 4 Hari di Laut Selayar: Gabus Tipis, Cinta Suami, dan Kegagalan Penyelamatan

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Terombang‑Ambing 4 Hari di Laut Selayar: Gabus Tipis, Cinta Suami, dan Kegagalan Penyelamatan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kapten kapal KM Nurul Salsa terbalik di perairan barat Pulau Polassi, menenggelamkan 78 penumpang.
  • Sembilan orang terdampar di atas selembar gabus; hanya lima yang selamat setelah menahan kelaparan, dehidrasi, dan terik matahari selama 90 jam.
  • Suami‑istri Andi Samad dan Sitti Amang menjadi saksi hidupnya: pelukan erat di tengah lautan menjadi satu‑satunya penahan maut.

Selasa, 15 Juli 2024 – Kapal penumpang KM Nurul Salsa yang berlayar dari Pulau Polassi, Selayar, tiba‑tiba kehilangan keseimbangan dan terjun ke dalam ombak. Dalam hitungan menit, kapal itu miring, menimbulkan kepanikan massal di antara 78 penumpang.

Geliat terbaru dapat dilihat pada laporan Tragedi KM Nurul Salsa yang dipublikasikan pada 22 Juli 2024.

Sitti Amang (47) mengingat momen menegangkan ketika ia terpaksa melompat ke laut untuk menghindari tenggelam. “Kapal sudah miring saat saya turun,” ujarnya saat dirawat di RSUD KH Hayyung Selayar pada 22 Juli.

Tanpa sekoci atau peralatan penyelamat, Sitti, suaminya Andi Samad, dan tujuh penumpang lainnya terdampar di atas satu gabus berukuran kecil. Selama empat hari tiga malam, mereka berjuang melawan terik matahari, dinginnya malam, serta rasa lapar dan dahaga yang tak terobati.

“Awalnya ada sembilan orang di atas gabus. Hanya lima yang selamat, termasuk kerabat kami, Diska Yanti. Empat lainnya meninggal,” kata Sitti dengan nada serak. Selama 90 jam, mereka tidak dapat mengonsumsi makanan atau air, bahkan tidak sempat tidur karena gelombang terus menggoyang.

Namun, di tengah keputusasaan, Andi Samad menjadi faktor penentu. Dengan tenaga yang hampir habis, ia terus memeluk Sitti dari belakang, mencegahnya terjatuh ke dalam laut yang mengamuk. “Kalau tidak ada suami, mungkin saya sudah jatuh,” ujarnya.

Setiap kali lampu kapal melintas di kejauhan, mereka berusaha menggerakkan gabus ke arah cahaya, meski jarak tampak tak terjangkau. “Kami semua berusaha mendayung, walau lemah, demi harapan sekadar dilihat,” tambah Sitti.

Pada Sabtu, 18 Juli, sebuah kapal nelayan akhirnya melihat gerakan tangan putus asa mereka dan berhasil mengevakuasi lima orang selamat, termasuk Sitti, Andi, dan tiga penumpang lainnya. Mereka kini masih dirawat di rumah sakit setempat.

Sementara itu, Basarnas melanjutkan operasi pencarian selama tiga hari ke depan. Dari 78 penumpang, 59 telah ditemukan selamat, tiga dinyatakan meninggal, dan 16 masih dalam proses pencarian.

Analisis Pakar

Tragedi KM Nurul Salsa menyoroti kegagalan regulasi keselamatan maritim di wilayah kepulauan. Kapal penumpang kecil yang beroperasi tanpa sekoci atau peralatan darurat jelas melanggar standar yang ditetapkan oleh Direktorat Penyelamatan Laut. Pemerintah daerah dan Kementerian Perhubungan harus melakukan audit menyeluruh terhadap armada penumpang di Selayar, termasuk verifikasi kelayakan teknis dan sertifikasi awak kapal.

Selain itu, respons cepat Basarnas masih dapat dipertanyakan. Meskipun operasi pencarian kini memasuki hari kedelapan, waktu respons awal tampak lambat, mengakibatkan korban terpaksa menahan dehidrasi dan hipotermia selama lebih dari tiga hari. Diperlukan prosedur koordinasi yang lebih terintegrasi antara otoritas pelabuhan, posko SAR, dan kapal nelayan setempat.

Aspek sosial‑kultural juga tak boleh diabaikan. Budaya “menumpang” pada kapal kecil tanpa memperhatikan kapasitas maksimal masih lazim di daerah terpencil. Edukasi publik tentang risiko berlayar dengan kapal tidak layak harus digandeng dengan penegakan hukum yang tegas, termasuk sanksi administratif dan pidana bagi operator yang melanggar.

Terakhir, kisah cinta antara Sitti dan Andi, meski mengharukan, tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata pada kegagalan struktural. Keberanian individu tidak dapat menggantikan tanggung jawab negara dalam menjamin keselamatan penumpang. Pemerintah harus segera menyiapkan regulasi yang memaksa semua kapal penumpang, sekecil apapun, untuk dilengkapi dengan sekoci, pelampung, dan radio VHF yang berfungsi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah korban selamat dan meninggal dalam kecelakaan KM Nurul Salsa?
    A: Dari 78 penumpang, 59 selamat, 3 meninggal, dan 16 masih dalam proses pencarian.
  • Q: Mengapa kapal tidak dilengkapi sekoci atau peralatan penyelamat?
    A: Pemeriksaan keselamatan maritim di wilayah Selayar belum memadai; operator kapal melanggar regulasi yang mengharuskan sekoci dan peralatan darurat.
  • Q: Apa langkah yang diambil Basarnas setelah kejadian ini?
    A: Basarnas memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan, melakukan pencarian dengan pesawat dan kapal patroli, serta berkoordinasi dengan kapal nelayan setempat.