Survei Ungkap: Perang Iran Jadi Bumerang Politik Trump, Risiko Ekonomi Menggeliat
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- 68% warga Amerika menilai perang Iran tidak layak diperjuangkan – rekor terendah dalam sejarah modern AS.
- Penolakan publik muncul dalam hitungan minggu, jauh lebih cepat dibandingkan konflik Irak atau Afghanistan.
- Sentimen negatif menurunkan kepercayaan investor, menambah tekanan pada kebijakan fiskal dan pertahanan Donald Trump yang sudah rapuh.
Jakarta, CNBC Indonesia – Donald Trump meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Hasil survei terbaru menunjukkan konflik ini menjadi "gerbang kehancuran" politik bagi presiden terpilih, sekaligus menimbulkan gejolak pasar yang belum pernah terjadi pada perang‑perang sebelumnya.
Survei gabungan Washington Post-Ipsos yang dipublikasikan pekan lalu mencatat 68% responden menilai perang Iran tidak layak diperjuangkan, sementara hanya 28% yang mendukung. Selisih negatif 40 poin ini menembus rekor terendah, melampaui titik terendah selama perang Irak dan Afghanistan.
Kecepatan penolakan publik ini menjadi pukulan keras bagi administrasi Trump. Pada Afghanistan, mayoritas baru berubah menjadi anti‑perang setelah hampir delapan tahun; pada Irak, butuh satu tahun untuk mencapai mayoritas yang serupa. Di sisi lain, perang Iran kehilangan dukungan dalam hitungan minggu, menandakan kegagalan strategi komunikasi dan legitimasi kebijakan luar negeri.
Survei Quinnipiac menegaskan bahwa 45% pemilih terdaftar percaya konflik ini justru melemahkan posisi Amerika di panggung global, dibandingkan 33% yang melihatnya memperkuat kekuatan AS. Data ini menambah tekanan pada pasar obligasi pemerintah, di mana premi risiko (risk premium) mulai naik karena ketidakpastian geopolitik yang tinggi.
Secara ekonomi, konsekuensi langsung meliputi: (1) peningkatan belanja pertahanan yang dapat menambah defisit anggaran; (2) volatilitas harga energi dunia, mengingat Iran adalah produsen minyak utama; (3) penurunan kepercayaan investor asing yang menilai kebijakan luar negeri sebagai faktor risiko utama dalam penilaian sovereign credit. Bagi perusahaan multinasional, terutama yang beroperasi di Timur Tengah, eksposur terhadap sanksi dan gangguan rantai pasok menjadi perhatian utama.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat bahwa kegagalan mendapatkan dukungan domestik bukan sekadar masalah politik, melainkan sinyal alarm bagi stabilitas fiskal. Pemerintah Trump kini berada di persimpangan: meningkatkan belanja militer tanpa dukungan publik akan memaksa penyesuaian anggaran yang dapat memicu kenaikan pajak atau pemotongan belanja sosial, keduanya berpotensi menurunkan pertumbuhan domestik.
Pasar keuangan sudah merespons dengan penurunan indeks saham defensif dan peningkatan spread obligasi pemerintah AS. Investor institusional menilai bahwa ketidakpastian geopolitik menambah beban premi risiko, yang pada gilirannya meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan. Bagi sektor energi, lonjakan harga minyak dapat memberikan keuntungan jangka pendek, namun ketidakpastian pasokan jangka panjang dapat memicu spekulasi berlebih dan menurunkan investasi pada energi terbarukan.
Lebih jauh, penolakan publik yang begitu cepat mengindikasikan bahwa kebijakan luar negeri tidak lagi dapat dipisahkan dari agenda ekonomi domestik. Pemerintah harus menyeimbangkan antara menegakkan kepentingan keamanan dan menjaga kepercayaan pasar. Jika tidak, tekanan pada dolar AS dapat memicu arus keluar modal, memperlemah nilai tukar, dan menambah beban impor.
Kesimpulannya, perang Iran bukan hanya "gerbang kehancuran" politik bagi Donald Trump, tetapi juga potensi pemicu guncangan makroekonomi yang dapat mengganggu agenda reformasi fiskal dan stabilitas pasar. Kebijakan yang responsif, transparan, dan berbasis data menjadi satu‑satunya jalan keluar untuk meminimalkan dampak negatif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa dukungan publik terhadap perang Iran turun begitu cepat?
A: Karena konflik tidak melibatkan pengerahan pasukan darat besar dan tidak menimbulkan korban militer signifikan, sehingga publik tidak melihat manfaat strategis yang jelas. - Q: Bagaimana perang ini memengaruhi pasar energi global?
A: Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan volatilitas harga minyak, memberi keuntungan jangka pendek bagi produsen, namun menambah ketidakpastian pasokan jangka panjang. - Q: Apa implikasi fiskal bagi pemerintah AS?
A: Peningkatan belanja pertahanan tanpa dukungan publik dapat memperlebar defisit anggaran, memaksa penyesuaian pajak atau pemotongan belanja sosial, yang pada gilirannya dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi.
BERITA TERKAIT

Ledakan Grand Polonia Medan: Labfor Temukan Gas Metana 10% LEL di Dapur, Apa Penyebabnya?

El Nino Mengancam Listrik Asia: Risiko Padam Besar, Indonesia di Garis Depan
