Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pukul 10 Malam Dinilai Jadi Titik Ideal Tidur untuk Mitigasi Risiko Kardiovaskular

KesehatanBudi SantosoBudi SantosoSumber: Kompas Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pukul 10 Malam Dinilai Jadi Titik Ideal Tidur untuk Mitigasi Risiko Kardiovaskular
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Dietisien terdaftar Michelle Routhenstein , M.S., RD, CDCES, CDN menegaskan bahwa pukul 10 hingga 11 malam merupakan jeda waktu ideal untuk memulai tidur guna menjaga kesehatan kardiovaskular secara optimal.
  • Jadwal tidur yang tidak teratur terbukti dapat mengacaukan ritme biologis tersebut, sehingga memicu fluktuasi tekanan darah yang tidak menguntungkan bagi tubuh.
  • Secara fisiologis, tekanan darah seseorang biasanya turun signifikan, yakni antara 10 hingga 20 persen, selama fase tidur yang dikenal sebagai penurunan nokturnal.

Dietisien terdaftar Michelle Routhenstein, M.S., RD, CDCES, CDN menegaskan bahwa pukul 10 hingga 11 malam merupakan jeda waktu ideal untuk memulai tidur guna menjaga kesehatan kardiovaskular secara optimal. Penjelasan mendalam ini disampaikan dalam acara Eating Well pada Senin (2/11), di mana Routhenstein menyoroti bahwa hampir seluruh sistem tubuh, termasuk nafsu makan, pencernaan, dan pelepasan hormon, diatur oleh ritme sirkadian atau jam internal berdurasi 24 jam. Jadwal tidur yang tidak teratur terbukti dapat mengacaukan ritme biologis tersebut, sehingga memicu fluktuasi tekanan darah yang tidak menguntungkan bagi tubuh.

Secara fisiologis, tekanan darah seseorang biasanya turun signifikan, yakni antara 10 hingga 20 persen, selama fase tidur yang dikenal sebagai penurunan nokturnal. Penurunan ini memberikan periode tekanan rendah yang krusial bagi istirahat sistem kardiovaskular. Namun, disfungsi pola ini, atau yang disebut sebagai non-dipper, dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Oleh karena itu, konsistensi waktu tidur dan bangun menjadi faktor penentu dalam mendukung proses regulasi alami tubuh yang sering terganggu oleh gaya hidup modern.

Kronologi Gangguan Ritme dan Dampak Seluler

Dokter spesialis kardiologi intervensi Devinder Singh, M.D, menambahkan bahwa gangguan pola tidur yang lazim terjadi pada pekerja shift, jet lag, atau kebiasaan tidur tengah malam memiliki dampak destruktif hingga ke level seluler. Dampak tersebut meliputi aktivasi sistem simpatetik yang berlebihan serta disfungsi sel endotel yang dapat membuat dinding jantung menjadi kaku. Kurang tidur secara reguler juga menghambat proses pemulihan alami tubuh di malam hari, di mana detak jantung seharusnya melambat dan pembuluh darah melemaskan diri untuk menurunkan tekanan darah, sehingga tubuh kehilangan mekanisme istirahat vitalnya.

  • Penurunan tekanan darah alami selama tidur berkisar 10-20 persen.
  • Gangguan ritme sirkadian dikaitkan dengan risiko serangan jantung dan stroke.
  • Disfungsi sel endotel dan kekakuan dinding jantung terjadi akibat kurang tidur kronis.
  • Faktor gaya hidup seperti stres dan diet turut mempengaruhi stabilitas tekanan darah.

Respon Ahli dan Rekomendasi Jangka Panjang

Berdasarkan data yang dirujuk oleh para ahli, orang dewasa yang rutin tidur antara pukul 10 dan 11 malam memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidur setelah tengah malam. Meskipun demikian, para ahli menyepakati bahwa fleksibilitas tetap diperlukan, di mana waktu tidur terbaik adalah waktu yang secara konsisten memungkinkan seseorang mendapatkan durasi tidur antara tujuh hingga sembilan jam. Konsistensi ini lebih penting daripada waktu spesifik, karena menjaga ritme sirkadian tetap stabil adalah kunci untuk menekan faktor risiko kematian akibat penyakit jantung yang masih menjadi masalah kesehatan utama secara global.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ