Pakar IVF Ungkap Penentu Utama Keberhasilan Bayi Tabung: Usia, Gaya Hidup, dan Strategi Medis
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dr Gia Pratama dan istrinya, Syafira Imaniar, akhirnya mengumumkan kehamilan anak pertama mereka setelah menanti delapan tahun. Kepastian ini tercapai melalui program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF), sebuah metode yang semakin lazim bagi pasangan di Indonesia yang menghadapi tantangan kesuburan. Dr Gia membagikan kabar bahagia tersebut melalui akun Instagram-nya, meminta doa agar proses kehamilan hingga persalinan berjalan lancar, sekaligus menyoroti perjalanan panjang yang mereka lalui.
Istilah IVF mengacu pada proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh, yaitu di laboratorium. Embrio yang berhasil terbentuk kemudian dipindahkan ke rahim perempuan untuk berkembang. Namun, keberhasilan proses ini tidak dijamin sama untuk setiap pasangan karena dipengaruhi oleh berbagai variabel klinis yang kompleks.
Umur sebagai Faktor Penentu Utama
Dr Tarang Yadav, Konsultan Senior IVF, Obsetri, dan Ginekologi di ShardaCare HealthCity, India, menegaskan bahwa tidak ada angka keberhasilan tunggal yang berlaku mutlak. "Tujuan akhir dari perawatan kesuburan bukan hanya tes yang positif, melainkan lahirnya bayi yang sehat," tegas Dr Yadav, dikutip dari NDTV. Di antara berbagai faktor klinis, usia wanita tetap menjadi variabel paling berpengaruh. Dr Yadav merinci, wanita di bawah usia 35 tahun umumnya memiliki tingkat keberhasilan tertinggi karena kualitas sel telur yang optimal. Pada rentang usia 35-40 tahun, fungsi ovarium mulai menurun dan risiko kelainan kromosom meningkat. Sementara itu, di atas usia 40 tahun, risiko aneuploidi pada embrio menjadi lebih tinggi, yang secara langsung menurunkan tingkat implantasi dan meningkatkan risiko keguguran.
Secara biologis, kondisi medis pasangan juga menentukan hasil. Dr Yadav mencatat bahwa gangguan seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), endometriosis berat, serta masalah rahim seperti fibroid memerlukan strategi stimulasi hormonal yang sangat cermat. Untuk pria, masalah berat seperti kualitas sperma yang rendah sering memerlukan intervensi khusus, termasuk teknik Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI).
Peran Gaya Hidup dalam Mendukung Kesuburan
Menurut Dr Yadav, faktor gaya hidup memiliki dampak nyata yang tidak kalah pentingnya. "Merokok, obesitas, konsumsi alkohol berlebih, nutrisi buruk, kurang tidur, dan stres kronis dapat berdampak buruk pada kualitas sel telur maupun sperma," tegasnya. Penelitian menunjukkan bahwa modifikasi gaya hidup yang proaktif sangat signifikan. Menjaga berat badan ideal membantu optimalisasi respons hormonal selama stimulasi ovarium dan daya terima rahim. Selain itu, pola makan tinggi antioksidan dan aktivitas fisik yang teratur terbukti membantu mengurangi peradangan sistemik serta stres oksidatif pada jaringan reproduksi, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan program IVF secara menyeluruh.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Rahasia Air Beras untuk Kulit dan Rambut: Metode Fermentasi Dipuji Tingkatkan Antioksidan

Mitos atau Fakta: Apakah Sering Makan Pedas Menyebabkan Radang Usus Buntu?

Kualitas Udara Jakarta Buruk, PM 2,5 Tembus 11,5 Kali Standar WHO
