Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hujan Es Menyerang Lampung Barat: BMKG Ungkap Peran Awan Cumulonimbus dalam Fenomena Langka

Berita NasionalRina WijayaRina WijayaSumber: Detik News
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Hujan Es Menyerang Lampung Barat: BMKG Ungkap Peran Awan Cumulonimbus dalam Fenomena Langka
BAGIKAN:

Peristiwa tidak biasa mengguncang Kabupaten Lampung Barat ketika fenomena hujan es membanjiri wilayah Kecamatan Balik Bukit pada Minggu (1/11/2026) sore. Kejadian ini bukan sekadar anomali cuaca biasa, melainkan manifestasi kompleks dari ketidakstabilan atmosfer yang dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat intens, menurut penjelasan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung. Dandim 0422/Lampung Barat, Letkol Inf Rizky Kurniawan, mengonfirmasi bahwa setidaknya enam wilayah mengalami dampak langsung dari hujan es berukuran sebesar kelereng tersebut.

Berlangsung sekitar 10-15 menit pada pukul 15.21 WIB, fenomena ini disertai hujan deras, angin kencang, serta petir yang membuat warga terkejut hingga banyak yang keluar rumah menyaksikan jatuhnya butiran es. Keenam wilayah terdampak meliputi Pekon Watas, Gunungsugih, Padang Dalom, Padang Hanakau, Kelurahan Waymengaku, dan Kelurahan Pasar Liwa. Kondisi tersebut menegaskan bahwa topografi lokal Lampung Barat turut mendukung pembentukan awan konvektif dengan intensitas tinggi.

Mekanisme Fisik: Bagaimana Awan Cumulonimbus Menghasilkan Es

Forecaster on Duty BMKG Lampung, Iqbal Arief Pangestu, menjelaskan bahwa proses terbentuknya hujan es sangat bergantung pada struktur dinamis di dalam awan Cumulonimbus. Awan jenis ini memiliki arus udara naik atau updraft yang kuat, sehingga mampu mengangkat butiran air ke lapisan atmosfer bersuhu di bawah titik beku. Pada ketinggian tersebut, butiran air membeku dan mengalami proses siklus di dalam awan hingga akhirnya jatuh kembali ke permukaan bumi sebagai hujan es.

  • Ketidakstabilan atmosfer menjadi pemicu utama pertumbuhan awan konvektif kuat.
  • Ketersediaan uap air yang melimpah di wilayah setempat mempercepat intensitas hujan.
  • Topografi lokal Lampung Barat berfungsi sebagai faktor pendukung pertumbuhan awan Cumulonimbus.

Iqbal menambahkan, kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya fenomena cuaca ekstrem yang jarang terjadi di Indonesia bagian barat, sekaligus menggarisbawahi pentingnya pemantauan atmosferik yang berkelanjutan di daerah pegunungan.

Dampak Lokal dan Respons Warga terhadap Kejadian

Kehadiran butiran es di halaman rumah dan jalanan menciptakan kepanikan ringan di antara warga, yang merespons dengan keluar rumah untuk menyaksikan fenomena tersebut. Meskipun belum ada laporan kerusakan infrastruktur berat dari data awal, potensi risiko bagi pertanian dan permukiman di enam Pekon dan Kelurahan terdampak tetap menjadi perhatian utama. Kejadian ini menekankan urgensi masyarakat untuk memahami dinamika cuaca lokal guna mitigasi risiko serupa di masa mendatang.

Meow! Tanya Nesi!
😸