Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ancaman Diabetes: 7 Organ Vital Terancam Rusak, dari Kerusakan Ginjal hingga Risiko Demensia

KesehatanBudi SantosoBudi SantosoSumber: Detik Health
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ancaman Diabetes: 7 Organ Vital Terancam Rusak, dari Kerusakan Ginjal hingga Risiko Demensia
BAGIKAN:

Diabetes kini tak lagi dipandang sekadar gangguan gula darah, melainkan ancaman sistemik yang dapat meretakkan fungsi tujuh organ vital tubuh. Dikutip dari Detik Health, komplikasi kronis ini tidak terbatas pada pankreas, melainkan meluas ke kaki, mata, ginjal, jantung, hati, otak, hingga sistem pencernaan. Jika kadar gula darah tidak terkontrol secara bertahun-tahun, kerusakan irreversible pada organ-organ ini menjadi tak terhindarkan.

Mekanisme kerusakannya berakar dari tingginya kadar glukosa yang berkepanjangan, yang perlahan-lahan menghancurkan jaringan saraf, pembuluh darah, dan sel-sel organ. Kondisi ini memicu serangkaian patologi, mulai dari kehilangan sensasi di extremitas hingga penurunan fungsi kognitif. Para ahli menekankan bahwa pemahaman mendalam tentang mekanisme ini adalah kunci utama pencegahan sebelum organ-organs tersebut mengalami tahap terminal.

Mekanisme Kerusakan pada Organ Spesifik

Kerusakan paling umum terjadi pada sistem saraf dan pembuluh darah. Neuropati perifer ditandai dengan rasa terbakar atau kesemutan di kaki, di mana National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) memperkirakan 30-50% penderita diabetes mengalaminya. Di sisi visual, retinopati diabetik merusak retina akibat pembuluh darah yang bocor atau tersumbat, dengan angka prevalensi mencapai 22,7% menurut tinjauan jurnal Ophthalmology 2021. Pada sistem kardiovaskular, endapan lemak mempersempit arteri, meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung hingga dua kali lipat dibandingkan non-penderita, data yang dirilis oleh CDC.

  • Ginjal: Kerusakan nefron menyebabkan penyakit ginjal kronis, dengan gejala awal berupa munculnya protein (albumin) dalam urine. CDC memperkirakan 1 dari 3 orang dewasa dengan diabetes mengidap kondisi ini.
  • Hati: Penderita diabetes tipe 2 rentan terhadap penyakit hati berlemak (MASLD). Meta-analisis 2024 dalam Clinical Gastroenterology and Hepatology berbasis data 2,2 juta pasien menunjukkan 65,33% mengidap penyakit ini tanpa gejala awal yang jelas.
  • Otak: Diabetes meningkatkan risiko penurunan kognitif dan demensia. Komisi Lancet 2024 memasukkan diabetes sebagai faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi melalui kontrol gula darah dan kolesterol.

Resiko Sistemik pada Pencernaan dan Langkah Pencegahan

Ancaman diabetes juga merambat ke sistem pencernaan melalui kondisi gastroparesis. Kerusakan saraf vagus akibat diabetes membuat lambung sulit mengosongkan isi makanan, menyebabkan mual, kembung, dan kesulitan makan. NIDDK menyebut diabetes sebagai penyebab gastroparesis yang paling umum. Kondisi ini secara patologis mempersulit pengelolaan diabetes itu sendiri, karena penyerapan glukosa menjadi tidak terprediksi secara temporal.

Dampak jangka panjangnya sangat krusial bagi populasi usia paruh baya. Penelitian menunjukkan bahwa kontrol metabolik yang buruk tidak hanya mengancam jantung dan ginjal, tetapi juga memperburuk peradangan dan metabolisme otak. Kendati tidak semua penderita diabetes akan mengalami demensia atau gagal organ total, langkah mitigasi tetap menjadi prioritas mutlak. Pasien diwajibkan untuk melakukan kontrol rutin terhadap tiga parameter utama: gula darah, tekanan darah, dan kadar kolesterol. Strategi ini adalah benteng pertahanan utama untuk menjaga integritas pembuluh darah dan memperlambat laju kerusakan organ-organ vital lainnya.

BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Meow! Tanya Nesi!
😸