Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Rupiah Tembus Rp18.125, Ekspansi Manufaktur RI Capai Level Tertinggi 8 Bulan

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Market & Saham
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Rupiah Tembus Rp18.125, Ekspansi Manufaktur RI Capai Level Tertinggi 8 Bulan
BAGIKAN:

Rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp18.125 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11/2026), menandai koreksi kecil setelah sebelumnya berhasil menguat selama dua hari berturut-turut. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ini melemah 0,03% dibandingkan penutupan pada Jumat (30/10/2026) di posisi Rp18.120 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,04% ke angka 101,917, yang merepresentasikan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia lainnya.

Manufaktur Membaik, Tapi Beban Biaya Mengintai

Di balik dinamika nilai tukar, sektor manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal positif yang signifikan. Data S&P Global yang dirilis pada Senin (2/11/2026) mencatat bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia melonjak menjadi 54,0 pada Oktober 2026, menjadikannya level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan pesanan baru yang tercepat sejak Oktober 2021, serta peningkatan pesanan ekspor dengan laju terkuat sejak survei dimulai pada April 2011.

Usamah Bhatti, ekonom S&P Global Market Intelligence, menegaskan bahwa ekspansi ini merupakan yang terkuat sejak Maret 2024. Namun, optimisme tersebut tetap diwarnai oleh tantangan struktural, yakni kenaikan biaya bahan baku yang memaksa produsen menaikkan harga jual lebih cepat, serta lemahnya penyerapan tenaga kerja baru. Kondisi ini menciptakan dilema bagi pelaku industri yang harus menyeimbangkan antara permintaan yang kuat dan tekanan inflasi dari sisi biaya produksi.

Inflasi Diproyeksi Melandai Jelang Rilis Data BPS

Perhatian pasar kini juga tertuju pada rilis data inflasi Oktober 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan pada hari yang sama. Konsensus dari 12 institusi yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksikan inflasi akan melandai menjadi 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,25% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dari 0,30% mtm dan 3,28% yoy pada bulan September. Meski tren melandai, tekanan harga dari komoditas pangan seperti beras dan minyak goreng masih berpotensi menahan perlambatan inflasi, sehingga data ini menjadi indikator krusial bagi arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ