Prabowo Segera Resmikan Pabrik Baterai EV Ketiga di Karawang, Investasi Tembus Rp21,76 Triliun

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan segera meresmikan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) ketiga yang beroperasi di Indonesia, sebuah langkah strategis yang menegaskan komitmen negara dalam mengakselerasi hilirisasi rantai pasok energi bersih. Fasilitas tersebut dikelola oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), sebuah perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha dari raksasa teknologi baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa persiapan peresmian telah dilaporkan langsung kepada Presiden, mengingat operasional pabrik di Karawang, Jawa Barat, ini telah dimulai sejak Juli 2026 dan terus berjalan dengan baik.
Dukungan Investasi dan Kapasitas Produksi masif
Total investasi untuk pengembangan pabrik ini hingga mencapai kapasitas penuh 15 gigawatt hour (GWh) diperkirakan sebesar US$1,2 miliar atau setara dengan Rp21,76 triliun, sebuah angka yang menunjukkan skala besar komitmen modal di sektor industri hijau. Kapasitas produksi tersebut diproyeksikan mampu menggerakkan sekitar 250.000 unit kendaraan listrik, yang akan menjadi tulang punggung ekosistem transportasi nol emisi di tanah air. Saat ini, tahap pertama pabrik telah dibangun dengan kapasitas 6,9 GWh sebelum direncanakan diekspansi. Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan bahwa area pembentukan sel baterai membentang sepanjang 1 kilometer, sebuah indikasi fasilitas yang sangat luas dan modern, dengan produknya akan didistribusikan tidak hanya untuk kendaraan listrik tetapi juga untuk sistem penyimpanan energi baterai (BESS). Untuk mendukung operasional, IBC bahkan telah mengirimkan 600 pegawainya untuk menjalani pelatihan intensif di China guna memastikan standar kualitas global.
Kehadiran CATIB melengkapi dua pabrik baterai EV lainnya di Indonesia, yaitu PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power yang telah beroperasi sejak Juli 2024 dan REPT Battero Indonesia di Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara. Dengan formasi tiga pabrik ini, Indonesia kini memiliki ekosistem produksi baterai yang semakin terintegrasi dan lengkap, mencakup seluruh rantai nilai mulai dari pertambangan, smelter, HPAL, produksi prekursor, katoda, hingga akhirnya ke battery cell. Bahlil Lahadalia menilai bahwa integrasi vertikal ini merupakan keunikan yang mungkin tidak banyak dimiliki negara lain, sekaligus bagian dari ikhtiar nasional untuk memperkuat hilirisasi dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku baterai. Selain itu, IBC bersama CATL juga sedang mengembangkan proyek material baterai di Halmahera dengan nilai investasi US$600 juta atau setara Rp10,88 triliun, serta berencana memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MW peak pada 2027 untuk mendukung aspek keberlanjutan lingkungan.
Peresmian ini tidak hanya sekadar membuka fasilitas industri, tetapi juga menjadi penanda signifikan bagi posisi Indonesia di peta global energi terbarukan. Dengan menggabungkan skala investasi triliunan rupiah, teknologi sel baterai yang canggih, serta integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir, negara ini sedang membangun fondasi yang kuat untuk menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik masa depan. Keberhasilan operasional pabrik di Karawang diharapkan dapat menarik lebih banyak investor asing dan memperkuat ekosistem pendukung lainnya, mulai dari komponen hingga manufaktur kendaraan lengkap, sehingga manfaat ekonomi dan lingkungan dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan oleh masyarakat.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

IMOS 2026 Digelar 10 Hari di ICE BSD, Tiket Mulai Rp25 Ribu

19 Pebalap MotoGP Tolak Balapan di Qatar, Yamaha Resmi Absen

Pemutihan Denda Pajak Kendaraan Jakarta Gelombang Kedua Resmi Diberlakukan Hingga Akhir 2026
