IHSG Terjun 1,46% di Sesi Pembukaan, Investor Antisipasi Data Inflasi dan Pemilu Sela AS
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Mulai perdagangan awal pekan pada Senin, 2 November 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan. Pada pembukaan sesi pertama pukul 09.00 WIB, indeks tercatat di posisi 5.039,54, melemah dari penutupan sebelumnya di 5.057,05. Hanya dalam hitungan menit, tepatnya pukul 09.03 WIB, IHSG menyentuh titik terdalam di level 4.981,52. Koreksi tajam ini menjadikan indeks turun 74,04 poin atau setara 1,46% ke level 4.983,01, menjadi posisi terdalam sejak bursa dibuka. Meskipun sempat memangkas kerugian ke kisaran 5.015,79 atau turun 0,82% menjelang pukul 09.05 WIB, volatilitas tinggi pasar mencerminkan kehati-hatian investor di tengah lanskap ekonomi global yang dinamis.
Dampak Regulasi BEI dan Sentimen Global
Pelemahan indeks ini sejalan dengan penghapusan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Senin, 2 November 2026. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan memicu lonjakan atau penurunan drastis indeks secara langsung, karena bobot saham yang dikeluarkan akan didistribusikan ulang ke konstituen lainnya. Di sisi lain, pasar global tengah menatap dengan cemas menuju pemilihan sela Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Selasa, 3 November 2026. Survei menunjukkan tingkat persetujuan Presiden Donald Trump berada di angka 32%, sementara Partai Demokrat unggul dalam preferensi pemilih terdaftar. Ketidakpastian hasil pemilu ini berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal AS dan memengaruhi arus modal asing ke pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Fokus Data Ekonomi: Inflasi dan Manufaktur
Di dalam negeri, investor sedang memantau rilis data inflasi Oktober 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari yang sama. Konsensus pasar dari 12 institusi memprediksi inflasi bulanan sebesar 0,24% dan inflasi tahunan di 3,25%. Selain itu, S&P Global juga merilis data PMI Manufaktur Indonesia untuk Oktober 2026, menyusul pemulihan aktivitas manufaktur ke zona ekspansi pada September dengan capaian 52,48. Di tingkat Asia, investor juga menantikan data PMI Manufaktur China versi RatingDog untuk Oktober, yang sebelumnya tercatat menguat menjadi 52,1 pada September, melampaui ekspektasi pasar dan menandai ekspansi terkuat sejak April 2026.
Menjelang akhir pekan, perhatian pasar global akan terfokus pada serangkaian data tenaga kerja Amerika Serikat. Pada Selasa, data JOLTS akan dirilis untuk mengindikasikan permintaan tenaga kerja, diikuti oleh laporan ADP pada Rabu yang menggambarkan perubahan tenaga kerja di sektor swasta. Puncak perhatian akan terjadi pada Jumat, 6 November 2026, ketika data Nonfarm Payrolls (NFP) dan angka pengangguran Oktober 2026 dirilis, yang akan menjadi barometer utama kesehatan ekonomi AS. Kombinasi dari berbagai agenda ekonomi di tingkat nasional dan internasional ini menciptakan pekan krusial yang akan menentukan arah pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi, dan indeks saham di pasar modal Indonesia.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)
BEI Apresiasi Dukungan Chapman Taylor untuk Penetrasi Pasar Modal RI

PHE Rekor Produksi Minyak Tembus 945 Ribu Barel di Kuartal-3 2026, Perkuat Ketahanan Energi

IHSG Amblas 16,70 Persen pada Oktober 2026 Imbas Rencana Reklasifikasi Status Pasar oleh MSCI
