Hacker Korut Dituduh Bobol Kripto Binance Rp114 Triliun, FBI Beberkan Modusnya
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Gerakan pencurian aset kripto senilai rekor US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun dari Binance diduga kuat dilakukan oleh kelompok peretas Korea Utara yang dikenal sebagai TraderTraitor. Biro Investigasi Federal AS (FBI) secara resmi mengaitkan aktor digital dari Korea Utara tersebut dengan operasi pencucian uang yang masif, di mana hasil curian dikonversi terutama ke dalam bentuk Ethereum. Insiden ini menjadi salah satu serangan siber terbesar dalam sejarah industri aset virtual, menarik perhatian para ahli keamanan siber dan regulator global karena skala kerugian serta kompleksitas modus operandi yang diterapkan oleh para pelaku.
Modus Operasi dan Jejak Digital
Para ahli dari TRM Labs dan Chainalysis mengidentifikasi kelompok TraderTraitor dengan tingkat keyakinan tinggi sebagai tersangka utama, dengan modus operandi yang menyasar staf teknologi informasi melalui tawaran pekerjaan palsu dan perusakan perangkat lunak berbahaya. Dalam salah satu skemanya, pelaku berhasil menyusup ke sistem otorisasi *hot wallet* milik Binance, yang memungkinkan dana dipindahkan secara otomatis ke alamat penyerang tanpa terdeteksi sebagai transaksi reguler. FBI menyatakan bahwa aset curian tersebut tidak langsung diuangkan, melainkan disebarkan secara bertahap untuk menghindari pelacakan, dan mereka telah meminta penyedia layanan aset virtual lain untuk memblokir transaksi terkait yang teridentifikasi.
Menanggapi dampak finansial yang besar, Binance mengambil langkah tegas untuk melindungi integritas cadangan pengguna. Perusahaan menyatakan bahwa 90% dari jumlah aset yang hilang telah digantikan melalui pembelian token baru menggunakan dana cadangan, sementara 10% sisanya akan dipenuhi seiring meningkatnya likuiditas pasar. Dana pemulihan ini bersumber dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai US$1 miliar serta cadangan futures lainnya, dengan komitmen penuh bahwa pengguna tidak akan menanggung kerugian dari insiden keamanan ini. Langkah ini diumumkan bersamaan dengan penerbitan laporan proof of reserves terbaru yang memungkinkan nasabah memverifikasi rasio cadangan aset secara transparan.
Dampak Jangka Panjang dan Ancaman Geopolitik
Pencurian ini menambah daftar panjang aksi siber Korea Utara yang diperkirakan mencapai minimal US$13,5 miliar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pembobolan Bybit dan Bitget di tahun sebelumnya. Para pakar keamanan, seperti Michael Barnhart dari DTEX, memperkirakan dana hasil peretasan ini mengalir ke jaringan kejahatan terorganisasi China untuk kemudian mendanai program persenjataan serta pengembangan teknologi drone Korea Utara. FBI juga menyoroti bahwa warga Korea Utara bekerja diam-diam di perusahaan teknologi AS untuk membiayai negara, sebuah praktik yang disebut sebagai ancaman strategis bagi keamanan nasional. Meskipun pihak berwenang terus membekukan sebagian aset, insiden ini menegaskan bahwa ancaman siber Korea Utara telah berevolusi menjadi tantangan geopolitik global yang menguji ketahanan infrastruktur finansial digital.