Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Bongkar Modus Sophistisikasi Hacker Korut Bobol Kripto Binance Senilai Rp114 Triliun

Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Bongkar Modus Sophistisikasi Hacker Korut Bobol Kripto Binance Senilai Rp114 Triliun
BAGIKAN:

Dua perusahaan analitik blockchain terkemuka, TRM Labs dan Chainalysis, mengidentifikasi kelompok peretas yang didanai negara Korea Utara, dikenal sebagai TraderTraitor atau Lazarus, sebagai tersangka utama di balik pencurian aset kripto senilai USD 6,3 miliar atau sekitar Rp 114 triliun dari Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia. Insiden ini menjadi bukti nyata dari kecanggihan taktik serangan siber yang digunakan oleh negara tersebut untuk membiayai program negara, sebuah aktivitas yang lama dibantah oleh pemerintah Pyongyang namun kini semakin terdeteksi oleh agensi keamanan internasional. Keberhasilan serangan ini menunjukkan pergeseran kemampuan peretas Korut yang kini tidak hanya mengandalkan malware sederhana, tetapi memahami secara mendalam sistem operasional dan kebijakan keamanan internal perusahaan besar.

Modus Serangan dan Respons Binance

Mekanisme pencurian dilakukan dengan menggunakan otorisasi khusus untuk mengubah hot wallet Binance, yaitu dompet digital yang terhubung ke internet, menjadi sistem yang secara otomatis memindahkan dana ke pihak penyerang. Awalnya, pihak Binance mengira insiden ini berasal dari peretasan laptop seorang insinyur, namun mereka kemudian menyadari bahwa skala serangan jauh lebih luas dan sistematis. Untuk menenangkan para nasabah dan menjaga kepercayaan publik, Binance mengumumkan bahwa 90% dari aset yang dicuri telah diganti oleh perusahaan menggunakan dana cadangan, sementara 10% sisanya yang memiliki likuiditas rendah sedang dalam proses pembelian. Perusahaan menegaskan bahwa seluruh dampak keuangan dari dana curian ini ditanggung oleh Binance, bukan oleh pengguna, dengan memanfaatkan Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai USD 1 miliar serta sebagian dari kas perusahaan.

Dampak Strategik bagi Korea Utara

Aksi pencurian ini merupakan bagian dari rentetan serangan siber yang terstruktur oleh Korea Utara, di mana negara tersebut direkrut dari mahasiswa berprestasi di berbagai universitas untuk membentuk grup hacker yang diawasi badan intelijen. Para ahli keamanan siber memperkirakan total aset kripto yang dicuri oleh kelompok ini kini telah mencapai sekitar USD 13,5 miliar, termasuk pencurian sebelumnya di Bybit dan Bitget. Dana hasil kejahatan siber tersebut tidak hanya berhenti pada keuntungan finansial, tetapi secara langsung dialirkan ke jaringan pencucian uang untuk mendanai program persenjataan, pengembangan drone, serta mendukung aktivitas militer Korea Utara di tengah sanksi internasional yang ketat. FBI secara khusus mengimbau penyedia layanan aset virtual global untuk memblokir transaksi terkait guna memutus rantai pencucian uang yang menggunakan konversi ke mata uang kripto lain seperti Ethereum.

Keterlibatan kelompok TraderTraitor dalam kasus ini menandai eskalasi signifikan dalam perang siber modern, di mana batas antara kejahatan finansial dan operasi negara semakin kabur. Dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan untuk menyusup ke sistem target, peretas Korut menunjukkan kapabilitas yang mengkhawatirkan bagi stabilitas keamanan siber global. Penanganan insiden Binance menjadi preseden penting dalam bagaimana platform kripto besar harus merespons ancaman siber berskala negara, sambil tetap memastikan perlindungan likuiditas nasabah melalui mekanisme cadangan yang transparan. Kejadian ini mengingatkan dunia bahwa aset digital, meski terdesentralisasi, tetap rentan terhadap serangan terorganisir oleh aktor negara yang memiliki sumber daya dan motivasi strategis yang kuat.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ