Sains Buka Tabir Fenomena Ketindihan: Bukan Mistis, Ini Penjelasan Medis di Balik Sleep Paralysis
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Fenomena "ketindihan" yang selama ini banyak dikaitkan dengan kepercayaan mistis kini diuraikan secara ilmiah sebagai kondisi medis yang dikenal dengan istilah sleep paralysis. Ahli neurologi dari Fakultas Kedokteran IPB University, Yeni Quinta Mondiani, menegaskan bahwa pengalaman tidak dapat bergerak saat mengantuk bukanlah akibat makhluk gaib, melainkan proses fisiologis saat otak bangkit sementara tubuh masih terkunci dalam mode tidur.
Yeni menjelaskan mekanisme dasar tidur manusia yang terbagi menjadi lima siklus, yaitu empat tahap Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan satu tahap Rapid Eye Movement (REM). Pada tahap REM, tubuh secara alami mengirimkan sinyal penghambat yang sangat kuat untuk mematikan otot guna mencegah gerakan selama mimpi. Ketika kesadaran tiba-tiba kembali sebelum hambatan otot ini berakhir, terjadilah sleep paralysis, di mana individu sadar sepenuhnya tetapi lumpuh sementara.
Pemicu dan Gejala yang Sering Disertai
Kondisi ini umumnya pertama kali terjadi pada rentang usia 15 hingga 35 tahun. Pemicu utamanya meliputi kurang tidur, tingkat stres tinggi, gangguan kecemasan, faktor genetik, serta kondisi medis seperti narkolepsi. Saat episode ini berlangsung, pasien biasanya berada dalam posisi terlentang dan merasakan kaku tubuh meski detak jantung dan pernapasan tetap normal. Setiap kejadian berlangsung singkat, hanya beberapa detik hingga hitungan menit. Rasa takut yang muncul akibat kelumpuhan ini sering memicu halusinasi, yang kemudian diperkuat oleh interpretasi supernatural dari penderita.
- Durasi Epis: Berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa menit.
- Rentang Usia: Umumnya mulai terjadi antara usia 15 sampai 35 tahun.
- Aktivitas Fisiologis: Napas dan detak jantung tetap normal meski tubuh tidak dapat bergerak.
- Pemicu Utama: Kurang tidur, stres, kecemasan, keturunan, dan narkolepsi.
Untuk mengatasi kondisi ini, Yeni menyarankan perbaikan gaya hidup melalui penerapan sleep hygiene. Langkah praktis meliputi pengaturan jam tidur dan bangun yang rutin, pembatasan konsumsi kafein serta makanan berlemak dan cepat saji, hingga pengurangan paparan perangkat elektronik menjelang tidur. Olahraga ringan juga direkomendasikan untuk membantu kualitas istirahat.
Jika ketindihan terus bertambah sering dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, intervensi medis menjadi langkah berikutnya. Dokter spesialis dapat meresepkan obat antidepresan dan menangani penyakit penyerta seperti narkolepsi untuk menghentikan siklus sleep paralysis yang berulang.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Chip Merah Putih, Ekosistem Desain dan Riset Jadi Fokus Utama
