AirNav Indonesia Pamerkan Inovasi Navigasi Berbasis AI di Forum Keselamatan Penerbangan AS
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

AirNav Indonesia memaparkan sejumlah terobosan teknologi navigasi penerbangan kepada para pemangku kepentingan Amerika Serikat dalam ajang Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM) yang digagas United States Trade and Development Agency (USTDA) di Arlington, Virginia, pada Selasa (27/10). Langkah ini menjadi bagian dari upaya lembaga tersebut untuk menyelaraskan standar keselamatan ruang udara nasional dengan perkembangan global.
Tantangan Wilayah Kepulauan dan Teknologi Baru
Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap, menegaskan bahwa pengelolaan lalu lintas udara di negara kepulauan memerlukan adaptasi teknologi secara berkesinambungan. Pihaknya tidak sekadar mempertahankan keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (CNS) yang sudah ada, melainkan juga mendorong inovasi berbasis digital serta kecerdasan buatan (AI) guna merespons ruang udara yang kian padat.
Beban operasional AirNav mencakup pelayanan di dua Flight Information Region (FIR), yakni FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang, yang membentang seluas 7,79 juta kilometer persegi. Setiap harinya, lembaga ini mengelola sekitar 5.000 penerbangan dan harus berkoordinasi dengan 10 FIR milik negara tetangga.
- Pengembangan sistem FF-ICE untuk pertukaran informasi penerbangan kolaboratif yang telah didemonstrasikan di Hanoi, Vietnam, pada 23 Juli 2025.
- Kolaborasi penyusunan NOTAM berbasis AI bersama Telkom University menggunakan model bahasa besar untuk mempercepat konversi data.
- Sistem pemantauan gangguan frekuensi radio sinyal satelit secara waktu nyata melalui GNSS Radio Frequency Interference Monitoring.
- Pengembangan internal EMIRA sebagai sistem manajemen lalu lintas udara modular, serta perluasan cakupan pengamatan lewat teknologi ADS-B berbasis Internet of Things.
Rencana Pengembangan Infrastruktur Masa Depan
Dalam forum yang sama, Zainal memaparkan peta jalan infrastruktur navigasi lanjutan yang mencakup pembangunan Remote/Digital Tower, Satellite-Based Augmentation System (SBAS), dan Transponder Landing System (TLS). Menaranya dirancang khusus untuk melayani bandara dengan volume lalu lintas rendah, sementara SBAS akan difokuskan pada riset karakteristik ionosfer ekuatorial demi mengoptimalkan kinerja navigasi satelit.
Adapun TLS dijajaki sebagai solusi pendukung pendaratan presisi di bandara yang memiliki keterbatasan infrastruktur atau medan yang menantang. Peluang kerja sama yang ditawarkan meliputi studi kelayakan, uji coba teknologi, riset, hingga peningkatan kompetensi personel.
Zainal menilai forum RTM ini membuka ruang kolaborasi teknis yang krusial bagi Indonesia. Program yang berlangsung sejak 26 Oktober hingga 6 November 2026 tersebut turut melibatkan delegasi Filipina dan mempertemukan perwakilan negara peserta dengan berbagai perusahaan asal Amerika Serikat untuk membahas kebutuhan pengembangan keselamatan maupun keamanan penerbangan.
BERITA TERKAIT (Teknologi)
