Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Gempa Magnitudo 4.6 Guncang Perairan Barat Daya Ternate, Warga Diminta Tetap Waspada

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa Magnitudo 4.6 Guncang Perairan Barat Daya Ternate, Warga Diminta Tetap Waspada
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4.6 mengguncang wilayah perairan Maluku Utara pada Minggu, 25 Oktober 2026, pukul 15:09:05 WIB. Pusat gempa dilaporkan berada di koordinat 155 kilometer arah barat daya-barat (WSW) dari Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Getaran yang bersumber dari kedalaman laut ini memicu perhatian serius mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu zona seismik paling aktif di Indonesia.

Berdasarkan data seismograf awal, guncangan gempa dirasakan oleh sebagian masyarakat di pesisir barat Pulau Halmahera dan beberapa titik di Kota Ternate dengan intensitas ringan hingga sedang. Belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa ini. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga yang berada di sekitar pusat gempa untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi hoaks yang kerap beredar pasca-guncangan.

Wilayah perairan di sebelah barat daya Ternate secara historis memang dikenal sebagai area dengan tingkat kerentanan seismik yang tinggi. Interaksi kompleks antara lempeng tektonik di kawasan timur Indonesia menjadikan setiap aktivitas kegempaan di zona ini harus dipantau secara ketat guna memitigasi potensi risiko bencana lanjutan bagi masyarakat pesisir.

Analisis Pakar Geofisika

Dari perspektif geofisika, episenter gempa yang terletak 155 kilometer barat daya Ternate ini berada tepat di zona subduksi kompleks Laut Maluku, tempat terjadinya tumbukan antara Lempeng Laut Maluku, Lempeng Sangihe, dan Lempeng Halmahera. Mekanisme sumber gempa di wilayah ini umumnya didominasi oleh sesar naik (thrust fault) akibat tekanan kompresional dari proses penunjaman ganda (double subduction), meskipun aktivitas sesar geser juga kerap terdeteksi di sepanjang sistem Sesar Sorong yang melintas di bagian utara Papua dan memanjang ke perairan Maluku.

Secara historis, kawasan perairan barat daya Ternate memiliki rekam jejak kegempaan yang signifikan. Zona ini pernah menjadi episenter sejumlah gempa berkekuatan menengah hingga besar, termasuk rentetan aktivitas seismik yang berkaitan dengan pergerakan Lempeng Laut Maluku yang menunjam ke bawah Lempeng Halmahera. Kecepatan konvergensi lempeng di area ini tergolong cepat, mencapai beberapa sentimeter per tahun, sehingga akumulasi tegangan elastis pada batuan kerak bumi berlangsung terus-menerus dan dilepaskan dalam bentuk gempa bumi secara periodik.

Terkait potensi tsunami, gempa bermagnitudo 4.6 dengan mekanisme sumber di zona transisi ini secara ilmiah belum cukup kuat untuk memicu deformasi dasar laut berskala masif yang dapat menghasilkan gelombang tsunami destruktif. Umumnya, ancaman tsunami signifikan baru muncul jika terjadi gempa berkekuatan di atas magnitudo 7.0 dengan kedalaman dangkal dan mekanisme sesar naik murni. Meski demikian, potensi gempa susulan (aftershock) tetap terbuka. Berdasarkan hukum Omori, peluruhan frekuensi gempa susulan akan menurun seiring berjalannya waktu, namun masyarakat pesisir Maluku Utara wajib tetap waspada dan memastikan jalur evakuasi mandiri selalu siap digunakan apabila terjadi guncangan yang lebih kuat di kemudian hari.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ