Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Wilayah Utara Fef Papua Tengah Dini Hari, Getaran Terasa Hingga Permukiman

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Wilayah Utara Fef Papua Tengah Dini Hari, Getaran Terasa Hingga Permukiman
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,9 mengguncang wilayah yang berjarak sekitar 53 kilometer arah utara-barat laut (NNW) dari Fef, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, pada Minggu (25/10/2026) dini hari pukul 00:41:51 WIB. Getaran seismik ini berlangsung cukup singkat namun terasa jelas oleh sejumlah warga di kawasan pegunungan tengah Papua, memicu kewaspadaan masyarakat di tengah gelapnya malam.

Berdasarkan analisis parameter kegempaan, pusat gempa berada di daratan dengan topografi perbukitan terjal yang menjadi karakteristik utama wilayah Pegunungan Arfak dan sekitarnya. Meskipun magnitudo 4,9 tergolong dalam kategori gempa menengah, kedalaman hiposenter yang relatif dangkal membuat energi gelombang seismik yang sampai ke permukaan tanah terasa lebih signifikan bagi penduduk lokal. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak terpancing hoaks yang beredar melalui pesan berantai, serta terus memantau informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat guncangan tersebut. Namun, tim reaksi cepat bencana di tingkat kabupaten dilaporkan telah melakukan asesmen awal ke desa-desa yang berada paling dekat dengan episenter guna memastikan kondisi keselamatan warga, terutama mengingat struktur bangunan tradisional di wilayah pegunungan yang umumnya rentan terhadap getaran tektonik.

Analisis Pakar Geofisika

Secara geologis, wilayah utara Fef dan kawasan Pegunungan Arfak secara umum berada dalam zona deformasi tektonik yang sangat kompleks akibat tumbukan aktif antara Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Pasifik. Interaksi konvergensi ini melahirkan berbagai sistem sesar aktif, termasuk Sesar Naik Sorong dan jaringannya, serta Sesar Ransiki yang melintasi bagian barat Semenanjung Kepala Burung. Gempa dengan magnitudo 4,9 di lokasi ini sangat konsisten dengan aktivitas pelepasan akumulasi tekanan pada segmen patahan lokal yang merupakan cabang dari sistem sesar besar tersebut.

Dari perspektif sejarah kegempaan, koridor Pegunungan Arfak hingga pesisir utara Papua Barat memang dikenal sebagai salah satu kawasan seismik paling aktif di Indonesia timur. Catatan historis menunjukkan bahwa wilayah ini kerap mengalami rentetan gempa bermagnitudo sedang hingga kuat, seperti peristiwa gempa destruktif di Manokwari pada masa lalu yang dipicu oleh pergerakan sesar naik dangkal. Aktivitas seismik di area ini bersifat klastering, artinya satu gempa utama sering kali diikuti oleh serangkaian gempa susulan seiring penyesuaian batuan di sekitar bidang patahan.

Terkait potensi bahaya lanjutan, gempa darat dengan magnitudo 4,9 secara ilmiah dipastikan tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan tsunami. Gelombang tsunami hanya dapat dipicu oleh gempa berskala besar—umumnya di atas magnitudo 7,0—yang terjadi di dasar laut dengan mekanisme sesar naik atau turun yang memindahkan kolom air secara masif. Meski demikian, potensi terjadinya gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo lebih kecil tetap terbuka lebar dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat di lereng-lereng curam Pegunungan Arfak juga wajib mewaspadai potensi longsor sekunder yang bisa terpicu jika hujan lebat mengguyur material tanah yang telah terguncang dan kehilangan kohesinya akibat gempa ini.

Meow! Tanya Nesi!
😸