Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dana Asing Keluar dari Saham, SBN, dan SRBI Usai MSCI Terbitkan Consultative Paper

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Dana Asing Keluar dari Saham, SBN, dan SRBI Usai MSCI Terbitkan Consultative Paper
BAGIKAN:

Arus modal asing yang sebelumnya positif di pasar keuangan Indonesia berbalik arah setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menerbitkan consultative paper terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bahwa aliran dana keluar tersebut tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga merambat ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Dalam taklimat media BI pada Jumat (23/10), Erwin menjelaskan bahwa sebelum penerbitan dokumen MSCI tersebut, arus masuk modal asing sejak akhir September hingga pertengahan Oktober 2026 masih menunjukkan perkembangan yang baik. Namun, kondisi berubah setelah consultative paper dirilis pada hari Jumat. BI memilih untuk tidak mempublikasikan angka pasti mengenai besaran dana asing yang keluar.

Sebelum terjadinya arus keluar ini, kebijakan insentif BI yang diluncurkan sejak Juni telah mendorong masuknya aset rupiah dalam jumlah besar. Total aset rupiah yang masuk mencapai sekitar Rp137 triliun-Rp138 triliun, dengan rincian sekitar Rp85 triliun berasal dari SRBI dan Rp53 triliun dari SBN. Sementara itu, transaksi swap tercatat hampir US$8,4 miliar dan Non-Deliverable Forward (NDF) sekitar US$1,4 miliar.

Untuk mengantisipasi dampak keluarnya dana asing, BI memastikan kecukupan likuiditas rupiah di pasar domestik. Erwin menegaskan bahwa bank sentral menyiapkan instrumen operasi moneter apabila tekanan arus keluar berdampak pada nilai tukar yang bergerak di luar batas toleransi. Instrumen yang dapat digunakan mencakup Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga intervensi langsung di pasar valuta asing.

Menurut keterangan BI, pergerakan nilai tukar rupiah sempat melonjak ke atas Rp18 ribu per dolar AS, namun dinilai belum berlebihan dan masih dapat dikelola. BI akan merespons melalui DNDF jika pelaku pasar tidak ingin melakukan konversi pada hari yang sama, atau melalui intervensi langsung jika permintaan konversi terjadi saat itu juga.

Di sisi lain, BI melanjutkan normalisasi operasi moneter dengan mengurangi likuiditas yang diserap melalui SRBI. Posisi SRBI yang pernah mencapai level tertinggi sekitar Rp1.070 triliun kini telah turun ke kisaran Rp900 triliun. Penurunan ini berarti BI telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dibandingkan posisi puncaknya.

Erwin menambahkan bahwa BI akan kembali melakukan kalibrasi terhadap penerbitan SRBI secara bertahap dan terukur. Langkah ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas yang terserap dalam instrumen berjangka panjang dengan ketersediaan likuiditas untuk kebutuhan jangka pendek dan menengah, sekaligus memperkuat transmisi kebijakan moneter.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸