Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Laut Flores, Terasa hingga Labuan Bajo Siang Ini

Bencana
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Laut Flores, Terasa hingga Labuan Bajo Siang Ini
BAGIKAN:

Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,9 mengguncang perairan Laut Flores pada Minggu (19/10/2026) pukul 12:45:56 WIB. Episentrum gempa terletak di laut, tepatnya sekitar 54 kilometer arah timur laut dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Getaran dilaporkan terasa oleh sejumlah warga pesisir dan pelancong yang berada di kawasan tersebut.

Berdasarkan analisis parameter seismik, guncangan ini tergolong dalam kategori gempa bumi menengah dengan intensitas getaran yang dirasakan berkisar antara skala II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI) di wilayah daratan terdekat. Pada skala tersebut, getaran umumnya dirasakan seperti truk berat yang melintas atau menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang perlahan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa seismik ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di sekitar pesisir utara Pulau Flores dan Kepulauan Komodo untuk tetap tenang serta tidak terpancing oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga diminta terus memantau kanal informasi resmi guna mendapatkan pembaruan data secara akurat dan menghindari kepanikan yang tidak perlu di tengah tingginya aktivitas pariwisata di Labuan Bajo.

Analisis Pakar Geofisika

Secara tektonik, wilayah 54 kilometer timur laut Labuan Bajo merupakan zona deformasi aktif yang dikendalikan oleh interaksi kompleks antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, serta pengaruh sistem Sesar Naik Flores (Flores Thrust). Sesar ini merupakan struktur patahan besar yang membentang sepanjang bagian utara kepulauan Nusa Tenggara, mulai dari utara Bali hingga selatan Sulawesi. Gempa dengan magnitudo 4,9 di lokasi ini sangat konsisten dengan mekanisme pelepasan energi akibat kompresi kerak bumi di sepanjang segmen Sesar Naik Flores tersebut.

Ditinjau dari sejarah kegempaan, koridor Laut Flores memiliki rekam jejak seismisitas yang tinggi. Wilayah ini pernah menjadi episentrum gempa destruktif bermagnitudo 7,8 pada 12 Desember 1992 yang memicu tsunami besar dan menelan ribuan korban jiwa di Maumere. Meskipun demikian, gempa terkini berkekuatan magnitudo 4,9 ini merupakan pelepasan regangan tektonik berskala kecil-menengah yang rutin terjadi sebagai bagian dari siklus seismik normal di zona subduksi dan busur kepulauan. Energi yang dilepaskan jauh lebih rendah dibandingkan ambang batas yang mampu memicu pergerakan dasar laut berskala masif.

Terkait potensi bahaya lanjutan, probabilitas terjadinya tsunami akibat gempa ini dapat dikesampingkan. Untuk membangkitkan gelombang tsunami yang signifikan, umumnya diperlukan gempa dangkal dengan magnitudo di atas 7,0 disertai mekanisme sesar naik yang mendisplasikan kolom air laut secara vertikal dalam volume besar. Sementara itu, potensi gempa susulan (aftershock) tetap ada namun diperkirakan akan berkekuatan lebih kecil dari gempa utama. Masyarakat diimbau untuk memastikan bangunan tempat tinggal memenuhi standar tahan gempa sederhana, terutama mengingat karakteristik tanah aluvial di beberapa pesisir yang dapat memperkuat efek amplifikasi gelombang seismik.

Meow! Tanya Nesi!
😸