Guru Besar FKUI Ingatkan Tuberkulosis Bisa Menyerang Siapa Saja Tanpa Pandang Status Sosial

Kesehatan
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Guru Besar FKUI Ingatkan Tuberkulosis Bisa Menyerang Siapa Saja Tanpa Pandang Status Sosial
BAGIKAN:

Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. mengingatkan masyarakat luas bahwa penyakit tuberkulosis (TB) dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, profesi, maupun latar belakang ekonomi. Peringatan tegas ini disampaikan untuk mematahkan stigma keliru yang selama puluhan tahun melekat kuat di benak publik Indonesia.

Penyakit menular ini tidak memilih korbannya berdasarkan strata sosial. Orang dengan kondisi fisik prima sekalipun memiliki risiko tertular jika berada di lingkungan dengan sirkulasi udara buruk atau berinteraksi erat dengan penderita TB aktif. Fakta medis ini sering kali luput dari perhatian masyarakat umum yang masih menganggap tuberkulosis sebagai penyakit eksklusif kalangan bawah.

Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia secara konsisten menempatkan isu pengendalian TB sebagai salah satu fokus utama riset dan edukasi mereka. Keterlibatan langsung seorang guru besar dalam menyuarakan peringatan ini menunjukkan tingkat urgensi yang tinggi terhadap ancaman kesehatan paru-paru di tanah air.

Stigma negatif kerap membuat pasien enggan mencari pengobatan sejak dini. Banyak penderita yang menyembunyikan gejala batuk berkepanjangan karena takut dikucilkan lingkungan sekitar. Penundaan diagnosis inilah yang justru memperparah rantai penularan di tengah komunitas.

Kegagalan mengenali gejala awal akan berdampak langsung pada lonjakan kasus baru. Setiap satu pasien TB aktif yang tidak terdeteksi berpotensi menularkan bakteri ke sepuluh hingga lima belas orang lain dalam kurun waktu satu tahun. Angka transmisi ini menjadi ancaman nyata bagi upaya pemerintah menekan beban kesehatan masyarakat.

Analisis Redaksi

Pernyataan langsung dari guru besar FKUI ini bukan sekadar imbauan rutin tahunan. Ini adalah teguran keras bagi sistem deteksi dini kita yang masih bolong-bolong. Selama dua dekade meliput isu kesehatan nasional, saya melihat pola yang sama berulang: masyarakat baru bergerak ketika angka kematian sudah tak terbendung. Mengandalkan kesadaran individu tanpa intervensi skrining masif di ruang publik hanya akan mengulangi kegagalan masa lalu.

Yang patut diwaspadai adalah resistensi obat akibat penanganan yang setengah hati. Ketika pasien berhenti minum obat sebelum tuntas karena merasa sembuh atau karena tekanan sosial, bakteri TB bermutasi menjadi varian yang jauh lebih ganas dan mahal untuk diobati. Beban biaya ini kelak akan ditanggung oleh sistem jaminan kesehatan nasional yang kapasitasnya sudah teruji batasnya.

Langkah logis selanjutnya menuntut sinergi lintas sektor. Kementerian Kesehatan tidak bisa bekerja sendirian mengandalkan puskesmas. Pemerintah daerah harus mewajibkan pemeriksaan TB berkala di sekolah, perkantoran, dan fasilitas umum lainnya. Tanpa pendekatan agresif semacam ini, peringatan dari para pakar pulmonologi hanya akan menjadi angin lalu yang berakhir di arsip berita.

Meow! Tanya Nesi!
😸