Zulhas Sindir Bahlil: Dikenang lewat Lagu MBG, Saya Didemo
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, alias Zulhas, melontarkan sindiran halus terkait perbedaan respons publik terhadap dirinya dan Menteri ESDM Bahlil Lahadali dalam konteks program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada pembukaan Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10), Zulhas menegaskan bahwa reputasi Bahlil sedang berada di puncak sorotan positif, sementara posisinya justru sering menjadi sasaran kemarahan warga. "Kalau 'MBG', semua orang tahu, memuji Pak Bahlil, bagian bagus. MBG-MBG tahu, kan, Pak, Ibu? Giliran saya, MBG itu didemo terus. Nah, itu bedanya," ujar Zulhas di hadapan para pelaku industri yang hadir.
Candaan politik tersebut merujuk pada fenomena viral lagu bertema MBG yang memuji Bahlil, sebuah konten kreatif yang menyebar luas di media sosial. Lagu yang menggunakan lirik diolah dari komentar warganet dan bantuan kecerdasan buatan (AI) ini memiliki bait ikonik seperti "MBG, Mas Bahlil ganteng" dan "Buah apa yang paling manis? Buahlil". Kesederhanaan dan repetisi lirik membuat lagu tersebut mudah melekat di ingatan publik, menciptakan kesan bahwa keberhasilan komunikasi program MBG identik dengan figur Bahlil, bukan dengan kementerian yang secara langsung mengurusi pangan.
Dalam kesempatan yang sama, Zulhas tidak hanya melakukan kritik, tetapi juga memberikan pujian tulus kepada rekan setim pemerintahnya tersebut. Ia mengakui bahwa Bahlil memiliki kecepatan karier yang memukau, melampaui banyak pihak senior dalam birokrasi dan politik. "Memang Pak Bahlil ini lebih muda dari saya, saya juga duluan. Tapi 10 tahun kita dibalap semua sama dia, habis kita. Enggak usah dibahas lagi, pasti berani, pasti cerdas, ya. Tepuk tangan untuk Pak Bahlil Lahadalia," ujar Zulhas, meminta hadirin memberikan apresiasi kepada Menko Hilirisasi dan Transisi Energi itu.
Dinamika ini menjadi menarik karena Bahlil kini memegang dua portofolio strategis: Menteri ESDM dan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Posisi ini memberinya panggung besar untuk terlihat publik, sementara program MBG yang menjadi isu sentral ekonomi-politik justru diasosiasikan dengan figur yang lebih muda dan gila-gilaan ini. Respons Bahlil terhadap lagu viral tersebut juga menunjukkan kecerdasan dalam mengelola narasi; ia mengaku penasaran dan ingin mengundang pembuatnya makan bersama, bahkan meminta bantuan Raffi Ahmad untuk melacak pencipta lagu itu.
Berbeda dengan respons Bahlil yang santai dan engaging, Zulhas merasakan tekanan nyata di lapangan. Demonstrasi terkait MBG yang ia maksud merujuk pada keluhan masyarakat yang merasa belum menerima manfaat program secara langsung atau mengalami hambatan dalam distribusi dan kualitas makanan. Bagi seorang menteri koordinator yang menangani sektor vital seperti pangan, jarak antara narasi media sosial yang positif di satu sisi dan kerumunan demonstran di sisi lain, menunjukkan tantangan besar dalam legitimasi program nasional.
Analisis Redaksi
Pernyataan Zulhas ini bukan sekadar candaan, melainkan sinyal peringatan mengenai efektivitas komunikasi publik di lingkup kementerian. Terdapat asimetri persepsi yang jelas: Bahlil mendapatkan 'halo effect' dari popularitas MBG meskipun ia tidak langsung memimpin program tersebut, sementara Zulhas, sebagai Menko Pangan, menanggung beban protes lapangan. Ini menandakan bahwa mesin komunikasi digital dan viralitas media sosial telah melampaui struktur hierarki birokrasi dalam menentukan citra politik pejabat negara.
Dampaknya bagi publik adalah kebingungan mengenai siapa yang bertanggung jawab penuh atas keberhasilan atau kegagalan MBG. Ketika Bahlil dipuji lewat lagu dan Zulhas didemo, masyarakat kehilangan rujukan tunggal untuk evaluasi kinerja. Langkah logis berikutnya bagi pemerintah adalah menyelaraskan narasi agar penghargaan publik tidak lagi bersifat personalistik pada figur yang tidak memegang mandat langsung, melainkan kembali pada institusi dan kinerja program itu sendiri.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ekspor Total RI Naik 12,39%, Didorong Kenaikan Industri Pengolahan Meski Pertanian Anjlok

BEI Keluarkan 81 Saham HSC dari IHSG dan India Tuntut Ketua KPU Mundur

Robert Budi Hartono Kembali Tempati Posisi Orang Terkaya RI dengan Harta Rp221,76 Triliun
