SBY Kelakar Soal Batuk Prabowo: Jika Keras, Rupiah dan Saham Bisa Jatuh

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

SBY Kelakar Soal Batuk Prabowo: Jika Keras, Rupiah dan Saham Bisa Jatuh
BAGIKAN:

Kelakar Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi sorotan saat ia menyinggung kesehatan Presiden Prabowo Subianto dalam acara akademik. SBY menyatakan bahwa jika batuk presiden baru tersebut terdengar keras, dampak ekonominya bisa dirasakan langsung pada nilai tukar rupiah dan indeks saham di pasar modal.

Komen humoris tersebut dilontarkan SBY saat menyampaikan orasi ilmiah dalam peringatan Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Selasa (13/10). Momen ini tercatat dalam rekaman audio dan video yang kini dapat diakses publik melalui kanal resmi FISIP Unpad. Di awal orasi, SBY menegaskan bahwa pemaparannya adalah ilmiah, bukan politik, sambil meminta maaf karena kondisinya yang sedang flu ringan.

"Sebelum saya sampaikan orasi ilmiah, harus saya pastikan bukan orasi politik, saya ingin sampaikan permohonan maaf, excuse coming from me, saya ini agak batuk, tapi bukan influenza A, aman, sehingga dalam sampaikan orasi ini sekali-sekali batuk, mohon dimaklumi," ujar SBY. Ia menambahkan bahwa batuknya sendiri sering kali mengganggu aktivitas melukisnya, sebuah hobi yang ia jalani dengan tenang meskipun ada gangguan kesehatan ringan itu.

Kelakar SBY mengenai Prabowo menjadi puncak dari candaannya di forum tersebut. "Kalau yang batuk Pak Prabowo, hati-hati. Kalau batuknya keras, nilai tukar rupiah dan saham bisa jatuh," selorohnya. Pernyataan ini mengasosiasikan stabilitas kepemimpinan negara langsung dengan stabilitas ekonomi, sebuah metafora yang cukup tajam di telinga para pendengar yang hadir.

Di balik kelakar tersebut, terdapat konteks politik yang kuat. SBY adalah Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, yang merupakan bagian dari koalisi besar pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka. Putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, dipercaya memegang posisi strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. SBY menutup komentarnya dengan harapan bahwa presiden dapat menjaga kesehatannya agar bisa memimpin negara dengan baik.

Analisis Redaksi

Komentar SBY, meskipun dibungkus dalam bentuk humor, mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap figur kepala negara dalam ekonomi Indonesia. Asosiasi antara kesehatan presiden dan gerak-gerik mata uang serta saham menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintah terikat erat pada sosok pimpinan tertinggi. Stabilitas ekonomi sering kali dipersepsikan stabil selama kepemimpinan terlihat kuat dan sehat, sementara isu kesehatan bisa memicu sentimen negatif pasar.

Lebih dari itu, kelakar ini menegaskan posisi strategis Partai Demokrat dalam kekuasaan saat ini. Dengan AHY masuk dalam kabinet dan SBY sebagai tokoh senior, partai ini memiliki pengaruh langsung terhadap dinamika pemerintahan. Interaksi seperti ini di forum publik, termasuk acara akademik, menjadi barometer bagaimana elite politik menjaga hubungan baik dan memposisikan diri dalam koalisi, sambil tetap mempertahankan jarak yang aman secara politik melalui candaan yang tidak terlalu provokatif namun tetap bermakna.

Meow! Tanya Nesi!
😸