Gempa M5.3 Guncang Laut Sulawesi, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempabumi tektonik dengan magnitudo 5,3 yang mengguncang wilayah Gorontalo pada Senin dini hari, 12 Oktober 2026, pukul 00:34:53 WIB. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 0,78° LU; 121,95° BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 151 km arah Barat Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada kedalaman 10 kilometer.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar lokal di zona subduksi Sangihe-Talaud. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (thrust fault). Getaran dirasakan oleh beberapa warga di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato dengan skala intensitas II-III MMI, di mana getaran dirasakan nyata dalam rumah seakan-akan ada truk berlalu hingga benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempabumi tersebut. Selain itu, hasil pemodelan tsunami dengan parameter awal gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa serta periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa sebelum kembali ke dalam rumah.
Analisis Pakar Geofisika
Zona barat Gorontalo berada di persimpangan kompleks lempeng Filipina Utara dan Lempeng Eurasia, yang menjadikannya salah satu area paling aktif secara seismik di Indonesia timur. Aktivitas gempa M5.3 ini kemungkinan besar terkait dengan sistem Sesar Palu-Koro bagian utara atau struktur sesar mikro yang terbentuk akibat tekanan kompresi dari zona subduksi Talaud-Sangihe. Secara historis, wilayah ini sering mengalami swarms seismic kecil namun jarang memicu gempa destruktif berskala besar (>M7.0) karena akumulasi energinya cenderung dilepaskan melalui serangkaian gempa sedang seperti ini.
Mekanisme thrust fault mengindikasikan adanya gaya tekan horizontal yang signifikan, khas untuk zona konvergen. Meskipun kedalaman 10 km tergolong dangkal sehingga getaran permukaan terasa jelas, energi total yang dilepaskan masih dalam kategori moderat. Potensi gempa susulan (aftershocks) memang ada, namun berdasarkan hukum Omori-Utsu, frekuensinya akan menurun eksponensial seiring waktu. Publik perlu waspada terhadap risiko longsor jika hujan deras terjadi bersamaan, mengingat kondisi geologi batuan sedimen muda di pesisir barat Gorontalo yang rentan erosi, meskipun ancaman tsunami dapat dikesampingkan karena vertikal displacement dasar laut yang dihasilkan tidak mencapai ambang batas kritis pembentukan gelombang laut.