Omzet Toko Suvenir Trump Anjlok Drastis, Pelanggan Mulai Jenuh

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Omzet Toko Suvenir Trump Anjlok Drastis, Pelanggan Mulai Jenuh
BAGIKAN:

Toko suvenir Donald Trump di Boones Mill, Virginia, kini menghadapi kenyataan pahit. Omzet Trump Town milik Whitey Taylor terjun bebas dari puncaknya yang mencapai US$12 ribu hingga US$15 ribu per hari menjadi hanya sekitar US$1.500 sampai US$3.000. Penurunan drastis ini mencerminkan melemahnya antusiasme publik terhadap merchandise sang mantan presiden seiring dengan citra politiknya yang terus merosot.

Pada Desember 2023, saat kampanye menuju Gedung Putih sedang memanas, bola krom untuk gantungan truk menjadi produk terlaris. Namun, pada kunjungan September lalu, meskipun varian XL tersedia, pengunjung justru berkurang signifikan. Taylor mencatat bahwa pasokan barang dari China mulai seret karena pemasok luar negeri enggan memproduksi barang baru bertema ucapan terbaru Trump, sebuah sinyal jelas bahwa permintaan pasar telah surut jauh sebelum stok habis.

Ironisnya, sebagian penyebab penurunan penjualan adalah kejenuhan pelanggan setia itu sendiri. "Kebanyakan orang yang datang sudah punya 10 topi Trump, lima bendera, dan entah apa lagi," ujar Taylor. Barang dagangan seperti gelas sloki, boneka kepala goyang, hingga cetakan es bergambar mugshot atau pose mengepalkan tangan pasca-percobaan pembunuhan tidak lagi memiliki daya tarik magis yang sama bagi para pendukung fanatik.

CNN melaporkan bahwa di tengah tingkat penerimaan Trump yang menyentuh rekor terendah, kekecewaan pelanggan mulai muncul terkait isu ekonomi. Stevie Lovell, teman Taylor, menyatakan ketidakpuasannya terhadap harga BBM dan perang Iran, serta merasa terganggu oleh laporan bahwa Trump menghasilkan kekayaan terbesar selama menjabat dibanding presiden sebelumnya. Jamie Varela juga mengeluh belanja dapurnya membengkak hingga US$800-US$1.000 per bulan, menyalahkan kebijakan perdagangan dan konflik global atas beban finansial rumah tangganya.

Survei CNN pada September memperkuat temuan lapangan ini: dua pertiga warga AS menilai Trump memperburuk kondisi ekonomi. Barbara Keith, pelanggan asal South Carolina, mempertanyakan tingginya harga bensin meski ada kesepakatan dengan Venezuela, namun ia memilih untuk tidak menyalahkan Trump secara langsung. Sebaliknya, ia skeptis terhadap janji politik berupa bantuan tunai US$5.000 jika Republik menguasai Kongres, menyebut para politisi sebagai tukang bohong demi suara, terlepas dari afiliasi partainya.

Analisis Redaksi

Fenomena sepi pembeli di toko suvenir Trump bukan sekadar masalah ritel biasa, melainkan barometer akurat dari degradasi modal politik Donald Trump. Ketika merchandise—yang biasanya berfungsi sebagai simbol identitas kelompok dan ekspresi loyalitas buta—mulai kehilangan nilai jualnya, hal itu mengindikasikan bahwa basis dukungan tradisional mulai retak. Ketidakpercayaan terhadap narasi ekonomi Trump, ditambah dengan kelelahan visual terhadap slogannya, menciptakan jarak emosional antara kandidat dan pemilih potensial di pemilu sela mendatang.

Yang perlu diwaspadai adalah bagaimana tim kampanye Trump akan merespons data mikro ini. Jika tren penurunan minat beli berlanjut, strategi pemasaran berbasis emosi dan nostalgia mungkin harus diubah total menjadi pendekatan teknokratis atau pragmatis yang lebih sulit dijual kepada massa populistik. Kegagalan menjual 'brand' Trump di level konsumen sehari-hari bisa menjadi preseden buruk bagi kemampuan mobilisasi dana dan partisipasi pemilih di masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸