Liang Wenfeng, Jenius Matematika di Balik Kekayaan Rp715 T dari DeepSeek

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Liang Wenfeng, Jenius Matematika di Balik Kekayaan Rp715 T dari DeepSeek
BAGIKAN:

Liang Wenfeng kini berdiri sebagai salah satu arsitek utama kekuatan kecerdasan buatan China, dengan harta kekayaan yang melonjak hingga US$40 miliar atau setara Rp715,65 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS. Peringkat ke-52 dalam Daftar Real Time Orang Terkaya Dunia versi Forbes pada Minggu (11/10) menegaskan dominasi pria kelahiran Zhanjiang, Guangdong, ini di kancah teknologi global, sebuah lompatan signifikan dari posisinya tahun lalu di peringkat ke-34 daftar orang terkaya di China.

Perjalanan Liang tidak dimulai dari ruang rapat korporat raksasa, melainkan dari obsesi masa kecil terhadap matematika dan pembacaan mandiri di luar jam sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di Universitas Zhejiang dengan spesialisasi teknik informasi elektronik serta visi komputer, ia membangun fondasi bisnisnya melalui serangkaian perusahaan investasi kuantitatif yang menggabungkan algoritma AI dengan pasar keuangan. Pada 2013, ia mendirikan Hangzhou Yakebi Investment Management Co Ltd, diikuti oleh pembentukan Hangzhou Huanfang Technology Co Ltd pada 2015 yang berevolusi menjadi Zhejiang Jiuzhang Asset Management Co Ltd.

Eksperimen awal tersebut berlanjut dengan pendirian Ningbo High-Flyer Quantitative Investment Management Partnership pada 2016, sebuah entitas yang sepenuhnya mengandalkan pemodelan matematis untuk strategi investasi. Puncak konsolidasi kapabilitasnya terjadi pada 2019 ketika Liang mendirikan High-Flyer AI, divisi riset khusus yang berhasil mengelola aset lebih dari 10 miliar yuan. Struktur inilah yang menyediakan modal dan infrastruktur teknis vital bagi peluncuran DeepSeek pada 2023, menandai transisi tegas dari pengelolaan dana ke pengembangan model dasar AI canggih.

Kehadiran DeepSeek mengubah dinamika persaingan global karena efisiensi biayanya yang radikal. Mengutip laporan CNN, perusahaan mengklaim hanya menghabiskan US$5,6 juta untuk mendukung model dasar AI-nya, angka yang sangat kontras dengan pengeluaran ratusan juta hingga miliaran dolar oleh kompetitor Amerika Serikat. Strategi open-source pada model R1, yang dirancang untuk menyaingi OpenAI o1, memungkinkan pengembang lain mengakses dan memodifikasi kode secara bebas, sekaligus membuktikan bahwa China mampu menghasilkan teknologi kelas dunia tanpa ketergantungan penuh pada sumber daya Barat.

Dampak finansial dari keberhasilan ini terlihat jelas pada Juni lalu, saat DeepSeek menggalang dana sebesar US$7,4 miliar dengan valuasi mencapai US$52 miliar. Namun, sorotan positif ini disertai bayangan kontroversi. Para ahli keamanan siber dan regulator internasional mulai menyuarakan kekhawatiran terkait potensi penyebaran misinformasi, dugaan eksploitasi data oleh pemerintah China, serta isu privasi pengguna di yurisdiksi Barat yang belum memiliki kerangka regulasi ketat untuk platform asal Tiongkok.

Analisis Redaksi

Kasus Liang Wenfeng merepresentasikan pergeseran paradigma dalam ekonomi digital Asia: kemenangan bukan lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki server terbesar, tetapi oleh siapa yang paling efisien dalam mengalokasikan komputasi. Keberhasilan DeepSeek menekan biaya pelatihan model hingga pecahan kecil dari standar industri AS menunjukkan bahwa hambatan masuk dalam pengembangan AI generatif telah runtuh. Ini menciptakan risiko disruptif bagi pemain lama Silicon Valley yang selama ini mengandalkan skala kapital sebagai benteng pertahanan pasar mereka.

Masyarakat perlu mewaspadai dualitas narasi ini. Di satu sisi, aksesibilitas model open-source mendorong inovasi lokal; di sisi lain, ketegangan geopolitik mengenai kedaulatan data membuat kepercayaan publik menjadi komoditas rapuh. Langkah selanjutnya yang logis adalah meningkatnya tekanan regulasi lintas negara terhadap audit algoritma dan transparansi data, terutama jika adopsi massal terus terjadi di sektor-sektor sensitif seperti kesehatan dan jasa hukum.

Meow! Tanya Nesi!
😸