⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5.2 Guncang Selatan Pelabuhanratu, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M5.2 Guncang Selatan Pelabuhanratu, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
BAGIKAN:

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,2 pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, pukul 06:30:17 WIB. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,94 LS dan 106,74 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 180 kilometer arah selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kedalaman 45 kilometer.

Menurut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan resminya, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Guncangan gempa ini dirasakan oleh masyarakat di wilayah Pelabuhanratu, Cisolok, hingga sebagian pesisir selatan Jawa Barat dengan intensitas III-IV MMI. Pada skala tersebut, getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa seakan-akan ada truk berlalu, bahkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat peristiwa alam tersebut.

Analisis Pakar Geofisika

Secara geologis, wilayah selatan Jawa Barat berada di zona pertemuan lempeng aktif yang dikenal sebagai Palung Sunda. Aktivitas tektonik di kawasan ini didominasi oleh proses subduksi miring dari Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Kedalaman hiposenter sebesar 45 kilometer mengindikasikan bahwa pelepasan energi terjadi di bidang kontak antar-lempeng bagian atas, bukan di kerak benua dangkal. Hal ini menjelaskan mengapa dampak permukaan relatif terbatas meskipun magnitudonya cukup signifikan.

Mengenai potensi tsunami, parameter awal gempa menunjukkan bahwa rasio antara magnitudo dan kedalaman serta mekanisme sesar thrust murni tidak menghasilkan deformasi dasar laut vertikal yang masif. Oleh karena itu, BMKG memastikan kejadian ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Namun, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang frekuensinya dapat meningkat dalam beberapa jam ke depan, seiring dengan penyesuaian tegangan batuan pasca-gempa utama. Struktur geologi setempat juga mencatat riwayat kegempaan berkala di segmen selatan Sukabumi-Ciamis, menjadikannya salah satu prioritas pemantauan mitigasi bencana nasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸