Adidas Gugat White Fox di Pengadilan Federal Australia Terkait Desain Empat Garis

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Adidas Gugat White Fox di Pengadilan Federal Australia Terkait Desain Empat Garis
BAGIKAN:

Adidas resmi menyeret White Fox Boutique ke meja hijau, menuntut penghentian penjualan pakaian berdesain empat garis yang dinilai menyesatkan dan mirip dengan merek dagang tiga garis ikonik milik raksasa olahraga Jerman tersebut. Gugatan ini diajukan ke Pengadilan Federal Australia pada 18 September, menyusul penolakan berulang kali dari pihak White Fox terhadap permintaan penghapusan desain kontroversial sepanjang tahun 2026.

Dalam sidang perdana di Sydney pada Jumat (9/10), pengacara Adidas, Patrick Flynn, menuduh merek fesyen daring asal Australia itu telah berbulan-bulan memasang empat garis paralel pada produknya. Flynn juga mempermasalahkan strategi promosi White Fox yang kerap memadukan busana mereka dengan sepatu Adidas asli dalam kampanye influencer. Foto-foto tersebut ditampilkan sebagai bukti potensi kebingungan konsumen yang masif. "Ada niat untuk menumpang reputasi kami," tegas Flynn di hadapan hakim.

White Fox, yang berdiri sejak 2013, merupakan pemain besar di pasar fast fashion global dengan basis penggemar kuat di kalangan remaja dan usia dua puluhan di Australia, Amerika Serikat, serta Inggris. Dengan lebih dari 2,7 juta pengikut di Instagram, pengaruh digital merek ini dianggap signifikan oleh Adidas. Selain pelanggaran merek dagang, Adidas menuntut ganti rugi karena meyakini White Fox sengaja menciptakan asosiasi mental antara brand-nya dengan citra premium Adidas melalui kemiripan visual yang disengaja.

Pihak tergugat tidak tinggal diam. Pengacara White Fox, Ed Heerey, membantah seluruh tuduhan tersebut dengan argumen bahwa praktik penggunaan empat garis adalah hal umum di industri mode cepat. Ia menyebut label lain seperti Princess Polly, Glassons, dan Shein juga menggunakan tampilan serupa tanpa digugat. "Jelas Adidas punya reputasi," ujar Heerey, namun ia menekankan bahwa slogan Adidas sendiri selalu menonjolkan konsep 'tiga'. "Penekanan pada tiga," tambahnya, mencoba memisahkan identitas visual White Fox dari hak eksklusif Adidas.

Sengketa ini memiliki preseden sejarah yang panjang bagi Adidas. Menurut catatan pemerintah Australia, perusahaan tersebut telah memegang merek dagang desain tiga garis di negara itu sejak 1957. Pada 2013, Adidas bahkan berhasil memenangkan gugatan melawan Pacific Brands, produsen barang konsumsi lokal, terkait penjualan sepatu berdesain empat garis. Hakim Ian Jackman kini menjadwalkan sidang lanjutan perkara ini untuk awal 2027, memberikan waktu bagi kedua belah pihak untuk mempersiapkan pembuktian mendalam mengenai batas ambang kesamaan desain.

Analisis Redaksi

Kasus ini bukan sekadar sengketa estetika, melainkan pertempuran hukum atas kekayaan intelektual di era di mana batasan antara inspirasi dan plagiarisme semakin kabur akibat kecepatan produksi fast fashion. Bagi Adidas, mempertahankan kemurnian logo tiga garis adalah pertahanan eksistensial; jika garis keempat diterima secara legal atau sosial, nilai jual utama mereka—yaitu kejelasan identitas visual—terancam erosi. Sementara bagi White Fox, kemenangan akan menjadi legitimasi bagi model bisnis yang mengandalkan dekonstruksi elemen-elemen high-end menjadi versi mass-market dengan sedikit modifikasi.

Publik perlu mewaspadai dampak domino dari putusan nanti. Jika pengadilan memutuskan bahwa empat garis masih berada dalam zona abu-abu yang melanggar, maka banyak merek kecil lainnya bisa menghadapi tuntutan serupa, mengubah lanskap kompetisi ritel online secara drastis. Sebaliknya, jika White Fox lolos, ini bisa memicu gelombang baru peniruan desain yang lebih agresif, memaksa pemilik merek tradisional untuk terus-menerus mengalokasikan sumber daya besar untuk litigasi alih-alih inovasi produk. Keputusan Hakim Jackman pada 2027 akan menjadi barometer penting bagi perlindungan merek dagang non-verbal di yurisdiksi Common Law.

Meow! Tanya Nesi!
😸