Menuju Final BSA: Kebon Baru Pamerkan Teba, Cilandak Barat Ungkap Potensi Wisata

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Menuju Final BSA: Kebon Baru Pamerkan Teba, Cilandak Barat Ungkap Potensi Wisata
BAGIKAN:

Kelurahan Kebon Baru dan Cilandak Barat di Jakarta Selatan menggelar festival persiapan menuju final penghargaan Benyamin S Award (BSA) pada Jumat (9/10). Dua wilayah ini memamerkan kekuatan masing-masing; Kebon Baru mengandalkan sistem pengelolaan sampah organik bernama Teba, sementara Cilandak Barat menonjolkan potensi wisata melalui kunjungan ke Museum Basoeki Abdullah.

Festival Juara Kebon Baru menjadi wadah bagi juri dan tim penyelenggara BSA untuk meninjau fasilitas kebersihan setempat. Akronim "Juara" dalam nama festival tersebut merepresentasikan nilai jujur, unggul, asri, ramah, dan amanah. Para tamu diajak melihat langsung sembilan unit teba yang tersebar di pekarangan warga sebagai bagian dari upaya pengolahan limbah rumah tangga secara mandiri.

Teba didefinisikan sebagai lubang di pekarangan yang berfungsi mengelola sampah organik secara alami. Selain infrastruktur lingkungan, kemeriahan acara diisi dengan stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tarian tradisional, aktivitas mewarnai bagi anak-anak, serta layanan cek kesehatan gratis. Pendekatan holistik ini bertujuan menunjukkan dampak positif program terhadap kesejahteraan warga sehari-hari.

Beralih ke Cilandak Barat, fokus utama terletak pada sektor pariwisata budaya. Tim BSA diberi kesempatan mengelilingi Museum Basoeki Abdullah secara langsung. Di depan museum, panggung hiburan menampilkan pertunjukan tari tradisional, fashion show, musik, hingga lenong Betawi. Kehadiran UMKM lokal juga dimanfaatkan pengunjung maupun panitia untuk membeli cinderamata atau menikmati kuliner.

Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menjelaskan proses seleksi ketat yang menghasilkan dua finalis ini dari sepuluh usulan awal. "Kami melakukan seleksi dan memilih 10 kelurahan yang memenuhi syarat dalam artian secara filosofis kita melihat Pak Benyamin S," ujar Syafrin. Filosofi tersebut menekankan sinergi antara pemerintah yang bekerja dan masyarakat yang bergerak, sejalan dengan implementasi program strategis gubernur terkait pemilahan sampah dan pemberdayaan ekonomi.

Dari sepuluh kandidat awal—termasuk Pulau Panggang, Kelapa Gading Timur, Malaka Sari, Utan Kayu Selatan, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, dan Kebon Sirih—hanya dua yang lolos tahap akhir di Jakarta Selatan. Syafrin berharap keberhasilan kedua kelurahan ini memicu replikasi inovasi di daerah lain agar program strategis dapat mengakar kuat hingga tingkat kelurahan.

Rangkaian penilaian masih berlanjut. Festival serupa dijadwalkan berlangsung di Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Setelah itu, para lurah akan mengikuti presentasi final pada 15 Oktober sebelum puncak acara BSA digelar pada 30 Oktober mendatang.

Analisis Redaksi

Pemilihan Teba dan Museum Basoeki Abdullah sebagai ikon kampanye BSA mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan daerah dari sekadar infrastruktur fisik menuju keberlanjutan ekologis dan kultural. Kebon Baru tidak lagi menjual janji perbaikan jalan, melainkan menawarkan solusi nyata atas krisis sampah perkotaan melalui partisipasi aktif warga. Ini membuktikan bahwa indikator 'bersih' dan 'sejahtera' dalam pilar penilaian BSA kini memiliki dimensi praktis yang terukur, bukan sekadar slogan administratif.

Sementara itu, strategi Cilandak Barat mengintegrasikan aset negara (museum) dengan geliat ekonomi mikro lokal menunjukkan kematangan manajerial lurah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Tantangan sesungguhnya bagi para finalis adalah mempertahankan momentum ini pasca-penghargaan. Jika festival hanya bersifat temporer demi kemenangan, maka esensi kolaborasi yang diklaim Syafrin Liputo gagal menyentuh akar masalah urbanisasi Jakarta. Publik perlu memantau apakah inovasi kecil seperti teba dan revitalisasi ruang publik museum akan bertahan sebagai kebijakan rutin atau sekadar pajangan sesaat.

Meow! Tanya Nesi!
😸