Danantara Lepas 100 BUMN Non-Inti ke Swasta, Konsolidasi 49 Hotel ke HIN

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Danantara Lepas 100 BUMN Non-Inti ke Swasta, Konsolidasi 49 Hotel ke HIN
BAGIKAN:

Lebih dari 100 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berstatus non-inti telah dilepas oleh Danantara Indonesia ke sektor swasta, sebuah langkah strategis yang diungkapkan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria.

Dony menegaskan bahwa divestasi ini didasari penilaian bahwa swasta memiliki kapasitas yang lebih mumpuni untuk mengelola sektor-sektor tersebut. "Dalam transformasi BUMN ini sudah lebih dari 100 perusahaan BUMN yang non-core kita lepas kepada swasta bahwa mungkin swasta akan lebih bagus mengelola itu daripada BUMN," ujarnya dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (8/10).

Kebijakan ini menunjukkan arah yang jelas: pemerintah tidak akan lagi memonopoli ruang bisnis yang seharusnya menjadi ranah swasta. Dony mencontohkan sektor perhotelan, di mana Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar BUMN meninggalkan bisnis tersebut. "Instruksi bapak presiden kalau perlu hotel itu dijual semua. Ngapain pemerintah masuk di hotel? Kan swasta banyak," tutur Dony.

Di sisi lain, CEO Danantara Rosan Roeslani menjelaskan bahwa konsolidasi aset perhotelan dilakukan dengan menyatukan 49 hotel milik BUMN ke dalam satu payung holding di bawah grup PT Hotel Indonesia Natour (HIN). "Kita terus menggabungkan baik itu rumah sakit, hospital, kita punya 137 hotel itu juga kita gabungkan sehingga ini salah satu program yang kita jalankan dengan target akhir tahun ini kita bisa mencapai kurang lebih 300 perusahaan BUMN," kata Rosan dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pusat Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu), Jumat (14/8).

Ke depan, Danantara memastikan akan terus menjalin kerja sama dengan menyalurkan investasi ke perusahaan-perusahaan swasta, termasuk melalui penempatan likuiditas. Latar belakang mayoritas pengurus Danantara yang pernah berbisnis di industri swasta menjadi faktor pendorong pendekatan kolaboratif ini, bukan kompetisi. Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan restrukturisasi ribuan entitas BUMN untuk menciptakan efisiensi operasional.

Analisis Redaksi

Langkah melepas lebih dari 100 entitas non-inti menandai pergeseran paradigma pengelolaan aset negara dari model 'negara sebagai pemain' menjadi 'negara sebagai regulator dan penyedia modal'. Dengan fokus pada efisiensi, konsolidasi 49 hotel ke HIN mengurangi tumpang tindih fungsi manajerial. Ini adalah sinyal penguatan bahwa BUMN di masa depan akan lebih ramping dan berfokus pada sektor-sektor krusial yang memang memerlukan kehadiran negara.

Perlu diwaspadai potensi friksi di internal birokrasi serta penolakan dari pihak-pihak yang melihat divestasi sebagai penyempitan ruang kontrol. Namun, komitmen menyalurkan likuiditas ke swasta menunjukkan bahwa dananya tidak hilang, melainkan dialirkan ke sektor yang lebih produktif secara komersial. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan Danantara dalam menjembatani kepentingan fiskal negara dengan return on investment yang wajar bagi sektor swasta.

Meow! Tanya Nesi!
😸